Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Vale Pastikan Produksi Nikel Matte Sorowako Tetap Stabil Meski Ada Pemangkasan RKAB

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Vale Pastikan Produksi Nikel Matte Sorowako Tetap Stabil Meski Ada Pemangkasan RKAB
Foto: (Sumber : Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Budiawansyah (kanan) dalam buka bersama yang digelar di Jakarta, Jumat (6/3/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri.)

Pantau - PT Vale Indonesia Tbk memastikan produksi nikel matte di smelter Sorowako, Sulawesi Selatan tetap berjalan sesuai proyeksi dan tidak terpengaruh oleh kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dilakukan pemerintah.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Budiawansyah menyatakan hingga saat ini operasional produksi masih mengikuti target yang telah ditetapkan perusahaan.

"Sampai saat ini, rencana produksi nikel matte tidak terpengaruh sama sekali, masih sesuai dengan forecast," ujar Budiawansyah.

Pemangkasan RKAB sebelumnya dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengurangi produksi nikel Indonesia guna mendorong kenaikan harga komoditas nikel di pasar internasional.

Namun operasional smelter Sorowako tetap berjalan karena pemerintah memberikan persetujuan 100 persen terhadap RKAB Vale untuk fasilitas tersebut.

Fokus Pasokan Bijih untuk Proyek Smelter Pomalaa

Vale saat ini memfokuskan perhatian pada kesiapan pasokan bijih nikel untuk mendukung smelter berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang sedang dibangun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Smelter HPAL Pomalaa ditargetkan mencapai tahap mechanical completion atau penyelesaian secara mekanis pada Agustus 2026.

Setelah tahap tersebut tercapai, proyek itu direncanakan mulai melakukan ramp up produksi pada semester kedua tahun 2026.

"Pada semester dua itu akan siap ramp up produksi. Kalau kami hitung Agustus, jadinya sekitar dua-tiga bulan sebelumnya, pasokan bijih untuk mendukung itu juga harus tersedia," kata Budiawansyah.

Vale Ajukan Revisi RKAB 2026

Untuk memastikan pasokan bijih nikel bagi proyek tersebut, Vale telah melakukan komunikasi dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Komunikasi tersebut berkaitan dengan pengajuan revisi RKAB Vale pada tahun 2026.

"Pak Dirjen dan juga jajaran sangat memahami hal ini, karena itu adalah komitmen kami ke pemerintah," ujarnya.

Vale berharap pemerintah dapat menyetujui revisi RKAB tahun 2026 guna mendukung operasional smelter HPAL Pomalaa.

Perusahaan menargetkan revisi tersebut dapat diselesaikan pada Juni 2026 atau bahkan lebih cepat.

"Kami memang sudah set up beberapa rancangan untuk adendum atau revisi nanti. Kita akan lihat ya, sesuai dengan regulasinya, apakah dibuka Juni atau bisa lebih awal," ujar Budiawansyah.

Penulis :
Ahmad Yusuf