
Pantau - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menekankan pentingnya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara bijak di tengah munculnya wacana pelebaran defisit fiskal akibat tekanan ekonomi global.
Indef Minta Pengelolaan APBN Lebih Hati-hati
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai kemungkinan defisit APBN melebar hingga di atas 3 persen cukup realistis jika asumsi makro ekonomi dalam APBN tidak tercapai.
"Ya, secara otomatis akan tembus kalau asumsi makro di APBN meleset semua," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pelebaran defisit berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan negara melalui penambahan utang baru.
"Takutnya ini digunakan untuk menambah utang. Jadi, lebih diutamakan pengelolaan anggaran APBN yang bijak agar punya dampak ekonomi yang positif," kata Esther.
Menurut dia, pemerintah sebaiknya lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja negara.
Program dengan kebutuhan anggaran besar disarankan diprioritaskan untuk daerah yang memiliki kebutuhan khusus.
Anggaran negara juga dinilai akan lebih efektif apabila diarahkan pada kegiatan yang mampu memberikan dampak ekonomi luas.
Kegiatan tersebut antara lain mendorong peningkatan ekspor serta pengembangan sektor pariwisata.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional.
Skenario Pemerintah Jika Konflik Timur Tengah Berlarut
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk dampak perang di kawasan Timur Tengah terhadap kondisi keuangan negara.
Dalam skenario terburuk tersebut, defisit APBN diperkirakan dapat mencapai 4,06 persen.
Airlangga memaparkan hal itu dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat 13 Maret 2026.
Ia menjelaskan terdapat tiga skenario apabila konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat berlangsung selama 6 hingga 10 bulan.
"Skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga 115 dolar AS per barel, kurs rupiah kita Rp17.500 per dolar AS, growth-nya 5,2 persen, imbal hasil surat berharga 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dua skenario lainnya relatif lebih moderat, tetapi defisit APBN tetap diperkirakan melampaui 3 persen.
Pada skenario pertama, harga minyak mentah diproyeksikan mencapai 86 dolar AS per barel dengan kurs rupiah Rp17.000 per dolar AS.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi dipertahankan di level 5,3 persen dengan imbal hasil surat berharga negara sebesar 6,8 persen.
Berdasarkan asumsi tersebut, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.
Pada skenario kedua, harga minyak mentah diproyeksikan mencapai 97 dolar AS per barel.
Kurs rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berada di level Rp17.300 per dolar AS.
Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di level 5,2 persen dengan imbal hasil SBN sebesar 7,2 persen.
Dalam kondisi tersebut, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,53 persen.
"Defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja, dan memotong pertumbuhan. Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga.
- Penulis :
- Leon Weldrick







