Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Riuh “Event” Menenun Wisata NTB

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Riuh “Event” Menenun Wisata NTB
Foto: (Sumber : Wali Kota Bima H. A Rahman H. Abdidin beserta istri tampil sebagai modeling di fashion show Festival Rimpu Mantika 2025 di Lapangan Serasuba. (ANTARA/Ady Ardiansah).)

Pantau - Deretan kegiatan pariwisata yang digelar sepanjang tahun kini menjadi strategi utama Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam mendorong pertumbuhan sektor wisata sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

Riuh tepuk tangan penonton, perpaduan musik tradisional dengan suasana alam, hingga padatnya anjungan UMKM menjadi gambaran yang kerap terlihat di berbagai agenda pariwisata di wilayah tersebut.

Pariwisata NTB tidak lagi hanya bertumpu pada daya tarik alam seperti pantai dan gunung, tetapi juga pada berbagai peristiwa atau event yang sengaja dirancang untuk menarik wisatawan datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan pengalaman mereka.

Pada 2026, pemerintah daerah menyiapkan 69 agenda pariwisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di NTB.

Jumlah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mencapai target kunjungan lebih dari 2,55 juta wisatawan sepanjang tahun.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana banyaknya event mampu memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar keramaian sesaat.

Ledakan Event Pariwisata

Kebijakan memperbanyak agenda pariwisata berangkat dari pengalaman sebelumnya yang menunjukkan bahwa event mampu memberikan dampak ekonomi secara cepat.

Salah satunya terlihat pada ajang olahraga rekreasi berskala nasional pada 2025 yang menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp130 miliar.

Kegiatan tersebut juga mendorong tingkat hunian hotel meningkat tajam hingga hampir penuh, serta menggerakkan sektor transportasi darat dan laut.

Dari pengalaman itu muncul pendekatan yang menekankan kuantitas agenda pariwisata dalam satu kalender tahunan.

Empat agenda bahkan masuk dalam kurasi nasional melalui program Kharisma Event Nusantara, yang menunjukkan bahwa sejumlah event di NTB telah mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.

Namun demikian, tidak semua event memiliki daya tarik yang sama.

Sebagian mampu menarik wisatawan mancanegara, sementara lainnya hanya menjadi konsumsi wisatawan lokal.

Ketimpangan ini menjadi tantangan karena fokus selama ini lebih banyak pada jumlah kegiatan, bukan pada besarnya dampak yang dihasilkan.

Tantangan Pasar Wisata Global

Selain persoalan kualitas event, sektor pariwisata juga menghadapi dinamika global.

Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, misalnya, berdampak pada penurunan jumlah wisatawan dari kawasan Eropa dan sekitarnya sekitar 11 persen.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus menyesuaikan strategi dengan menyasar pasar wisata yang lebih dekat seperti Malaysia, Singapura, dan Australia.

Langkah ini dinilai realistis, namun juga menunjukkan bahwa event pariwisata tidak dapat berdiri sendiri tanpa strategi pemasaran yang adaptif terhadap perubahan kondisi global.

Penulis :
Ahmad Yusuf