
Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi menguat 55 poin atau 0,32 persen menjadi Rp16.986 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.041 per dolar AS seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Penguatan mata uang Garuda tersebut juga dipengaruhi oleh penurunan indeks dolar AS yang terjadi setelah munculnya sinyal meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan sentimen positif dari pasar global mendorong penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.940-Rp17.040 dipengaruhi oleh penurunan index dollar yang disebabkan oleh optimisme pelaku pasar terhadap deeskalasi perang AS-Israel dan Iran,” ungkap Rully di Jakarta, Rabu.
Sinyal Penghentian Operasi Militer AS
Sentimen positif tersebut muncul setelah laporan media internasional yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran.
Laporan yang dikutip dari The Wall Street Journal menyebut Trump menyampaikan kepada para stafnya bahwa Washington siap menghentikan operasi militer, bahkan ketika Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah Amerika menilai upaya membuka jalur pelayaran Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi militer yang diperkirakan berlangsung selama empat hingga enam pekan.
Pemerintah Amerika Serikat kemudian memilih fokus pada tujuan utama operasi militer, yakni membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya, sekaligus meredakan ketegangan yang sedang berlangsung.
Sentimen Domestik Turut Mendukung
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga menilai positif langkah efisiensi kebijakan yang akan dijalankan pemerintah Indonesia.
Namun demikian, pelaku pasar masih berhati-hati karena harga minyak dunia yang masih berada di kisaran 100 dolar AS per barel.
Rully juga memperkirakan inflasi Indonesia pada Maret 2026 akan melandai dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 3,65 persen.
Menurutnya, penurunan inflasi tersebut dipengaruhi oleh insentif tarif listrik serta harga pangan yang relatif terkendali setelah periode Lebaran.
“Neraca perdagangan diperkirakan masih mencatatkan surplus sebesar 1,5 miliar dolar AS, lebih baik dibanding bulan sebelumnya dengan kenaikan pada ekspor dan impor,” ujar Rully.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf









