
Pantau - Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi menguat tipis ke level Rp16.982 per dolar AS, dipengaruhi peningkatan surplus neraca perdagangan Indonesia.
Surplus Perdagangan Jadi Penopang
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut penguatan rupiah didorong oleh surplus perdagangan yang meningkat pada Februari 2026.
“Surplus perdagangan meningkat menjadi 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026 dari 0,95 miliar dolar AS, ditopang oleh penurunan impor migas,” ungkapnya.
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Secara kumulatif, surplus periode Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dolar AS.
Selain itu, inflasi Maret 2026 tercatat melambat menjadi 3,48 persen secara tahunan, masih dalam kisaran target Bank Indonesia.
Sentimen Global dan Proyeksi Rupiah
Dari sisi global, pasar keuangan turut ditopang optimisme meredanya konflik di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim "kepemimpinan baru" Iran meminta gencatan senjata, namun pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Iran.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hasil beragam, mulai dari peningkatan tenaga kerja hingga penguatan penjualan ritel.
Berdasarkan faktor domestik dan global tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Sebagai informasi tambahan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika eksternal dan kondisi ekonomi global yang terus berkembang.
- Penulis :
- Aditya Yohan









