
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin pagi melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.996 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timteng dan harga minyak mentah yang masih terus naik,” ujarnya di Jakarta.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Trump juga menyinggung pembukaan Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis distribusi energi dunia.
“Trump mengancam Iran akan menjadi neraka besok Selasa (7/4) apabila Hormuz tidak dibuka,” kata Lukman.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat naik hingga 115 dolar AS per barel sebelum terkoreksi ke sekitar 112 dolar AS per barel.
Penguatan dolar AS juga didorong data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.
Jumlah pekerjaan di sektor Non-Farm Payroll (NFP) pada Maret 2026 meningkat 178 ribu, jauh melampaui perkiraan ekonom yang sebesar 59 ribu.
Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen pada Februari 2026.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.
- Penulis :
- Aditya Yohan









