HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat 4,42 Persen ke Level 7.279,21 Usai Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Picu Euforia Investor

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Menguat 4,42 Persen ke Level 7.279,21 Usai Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Picu Euforia Investor
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup menguat signifikan sebesar 308,18 poin atau 4,42 persen ke level 7.279,21 pada Rabu sore, didorong euforia investor setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meredakan ketegangan geopolitik global.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga mengalami kenaikan 31,96 poin atau 4,55 persen ke posisi 733,62.

Penguatan terjadi sejak pembukaan perdagangan dan IHSG bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi kedua.

Seluruh 11 sektor dalam Indeks Sektoral IDX-IC tercatat mengalami kenaikan.

Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 8,86 persen.

Sektor infrastruktur naik 5,85 persen dan sektor industri menguat 5,63 persen.

Sentimen Global Dorong Minat Investor

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyatakan penguatan IHSG dipicu sentimen global jangka pendek akibat meredanya tensi geopolitik.

Ia mengungkapkan bahwa pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan selama dua pekan menjadi salah satu faktor utama pendorong sentimen positif.

Iran juga membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang penting bagi distribusi energi global.

Kondisi tersebut menurunkan kekhawatiran gangguan pasokan energi sehingga harga komoditas menjadi lebih stabil.

Stabilnya harga komoditas mendorong minat beli investor kembali masuk ke pasar saham termasuk Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pasar saham sangat sensitif terhadap isu geopolitik terutama yang berkaitan dengan jalur distribusi minyak dunia seperti Selat Hormuz.

Saat risiko konflik menurun, investor global cenderung melakukan risk-on atau masuk ke aset berisiko seperti saham di emerging market.

Peringatan Potensi Volatilitas

Hendra mengingatkan kebijakan dan komunikasi Donald Trump yang dinamis dapat memicu volatilitas pasar kembali.

Ia menilai reli saat ini berpotensi hanya bersifat sementara atau technical rebound dan belum tentu menjadi tren naik jangka panjang.

Ia menegaskan, "Euforia berlebihan justru berisiko membuat investor masuk di harga puncak, terutama di tengah kondisi pasar yang masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global yang fluktuatif," ungkapnya.

Investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam mengambil keputusan investasi.

Momentum rebound dapat dimanfaatkan untuk trading jangka pendek dengan manajemen risiko ketat.

Saham dengan kenaikan terbesar antara lain FWCT, KUAS, RMKO, ROCK, dan SOTS.

Sementara saham yang mengalami penurunan terbesar yaitu GSMF, ESIP, CBPE, PTSP, dan WIDI.

Frekuensi perdagangan mencapai 2.429.228 transaksi dengan volume 43,00 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp22,62 triliun.

Sebanyak 623 saham naik, 101 saham turun, dan 95 saham stagnan.

Bursa saham Asia juga menguat dengan indeks Nikkei naik 5,42 persen, Shanghai naik 2,63 persen, Hang Seng naik 3,09 persen, dan Strait Times menguat 0,94 persen.

Penulis :
Arian Mesa