HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Soroti Pergerakan Rupiah Dipengaruhi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Soroti Pergerakan Rupiah Dipengaruhi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj..)

Pantau - Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi ketidakpastian konflik di Timur Tengah meskipun terdapat optimisme terhadap potensi penyelesaian konflik tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede di Jakarta, Kamis (16/04), menanggapi dinamika pasar keuangan global.

“Meskipun terdapat optimisme terhadap potensi penyelesaian konflik di Timur Tengah, ketidakpastian masih tergolong tinggi,” ujarnya.

Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah tercatat menguat tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.141 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.143 per dolar AS.

“Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.075–Rp17.200 per dolar AS,” ungkapnya.

Sentimen Global Picu Sikap Wait and See

Ketidakpastian pasar dipicu oleh perkembangan konflik, termasuk langkah Angkatan Laut Amerika Serikat yang mencegat sejumlah kapal tanker minyak terkait blokade Iran.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu kejelasan arah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, terdapat kemajuan diplomatik dan harga minyak masih bertahan di bawah 100 dolar AS per barel, sehingga premi risiko di pasar keuangan mulai mereda.

Faktor Domestik dan Kebijakan Global Berpengaruh

Dari sisi global, kebijakan moneter Amerika Serikat melalui The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026.

Selain itu, potensi penundaan penurunan suku bunga hingga 2027 juga dipengaruhi oleh kemungkinan tingginya harga energi.

Sementara dari dalam negeri, laporan S&P Global Ratings menyoroti kerentanan ekonomi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, apabila konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan inflasi domestik dan biaya pinjaman pemerintah di masa mendatang.

Penulis :
Aditya Yohan