HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran dan Sentimen Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Menguat di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran dan Sentimen Global
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Pada sesi pembukaan perdagangan Jumat (10/4) pagi, IHSG naik 44,921 poin (0,61 persen) ke level 7.352,510 pada hari pertama penerapan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat pada pembukaan perdagangan Jumat di tengah pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen Global dan Pergerakan Pasar

IHSG dibuka naik 24,43 poin atau 0,32 persen ke level 7.645,81, sementara indeks LQ45 juga menguat 0,15 persen ke posisi 758,48.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, "Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.500- 7.850. Potensi menguat ada namun terbatas," ujarnya.

Dari global, sentimen pasar dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi kesepakatan dengan Iran, termasuk pembukaan Selat Hormuz dan kelanjutan pembicaraan pada akhir pekan.

Selain itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga memicu tekanan inflasi di Eropa yang berdampak pada perubahan proyeksi kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa.

Faktor Domestik dan Prospek IHSG

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

Nico menyebut, "Stabilnya rating juga berpotensi menahan kenaikan yield obligasi pemerintah (SBN), sehingga biaya pendanaan negara tetap terjaga di tengah tekanan global," ujarnya.

Ia menambahkan kondisi tersebut dapat mendorong aliran modal masuk ke pasar saham dan obligasi, terutama pada sektor sensitif suku bunga seperti perbankan dan properti.

Meski demikian, risiko tetap ada terkait rasio pembayaran bunga utang yang masih tinggi, yang berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah ke depan.

Penulis :
Ahmad Yusuf