HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Anjlok 2,16 Persen ke Level 7.378,61 Tertekan Rupiah dan Lonjakan Harga Minyak Global

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

IHSG Ditutup Anjlok 2,16 Persen ke Level 7.378,61 Tertekan Rupiah dan Lonjakan Harga Minyak Global
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 163 poin atau 2,16 persen ke level 7.378,61 pada perdagangan Kamis sore seiring tekanan dari pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak mentah global.

Tekanan Rupiah dan Faktor Global Picu Pelemahan

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyampaikan bahwa sentimen negatif utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi cepat dan di luar ekspektasi pelaku pasar.

"Sentimen negatif antara lain berasal dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dan ditutup pada level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot. Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia ," ungkapnya.

Rupiah tercatat berulang kali menyentuh level terendah sepanjang sejarah sepanjang April 2026 meski Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate), namun kebijakan tersebut dinilai belum mampu memberikan dukungan signifikan terhadap pasar.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Dari sisi global, penutupan Selat Hormuz turut menjaga harga minyak tetap tinggi yang berpotensi meningkatkan inflasi serta memperlebar defisit anggaran.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat berdampak pada defisit transaksi berjalan.

Pergerakan IHSG dan Aktivitas Perdagangan

IHSG sempat dibuka menguat sebelum berbalik ke zona merah hingga penutupan perdagangan.

Indeks LQ45 turut melemah 20,09 poin atau 2,73 persen ke posisi 715,88.

Pelemahan terdalam terjadi pada sektor barang konsumen nonprimer yang turun 3,18 persen diikuti sektor industri 2,83 persen dan sektor teknologi 2,32 persen, sementara sektor transportasi dan logistik menjadi satu-satunya yang menguat sebesar 2,42 persen.

Saham yang mencatat penguatan antara lain KOBX, MAXI, SKBM, WBSA, dan PGLI, sedangkan saham yang mengalami pelemahan signifikan meliputi DEFI, BOBA, HOPE, COCO, dan KICI.

Aktivitas perdagangan tercatat sebanyak 3.079.440 transaksi dengan volume 54,16 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp20,49 triliun, dengan 192 saham naik, 505 saham turun, dan 123 saham stagnan.

Bursa regional Asia juga mengalami pelemahan dengan indeks Nikkei turun 0,74 persen, Hang Seng melemah 0,95 persen, Shanghai terkoreksi 0,32 persen, dan Straits Times turun 1,17 persen.

Di sisi likuiditas, data Bank Indonesia menunjukkan uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen secara tahunan menjadi Rp10,355 triliun pada Maret 2026, meningkat dari 8,7 persen pada Februari 2026.

"Hal ini diperkirakan seiring dengan adanya Hari Raya Idul Fitri di Maret 2026 sehingga jumlah uang beredar meningkat untuk transaksi, investasi dan konsumsi," ungkapnya.

Pertumbuhan M2 didorong oleh M1 yang tumbuh 14,4 persen serta uang kuasi yang meningkat 5,2 persen, dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah, penyaluran kredit, dan peningkatan aktivitas ekonomi saat Idul Fitri.

Penulis :
Shila Glorya