
Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penguatan industri substitusi impor di sektor farmasi guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku obat dari luar negeri.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi
Khofifah menegaskan bahwa meskipun produksi obat telah banyak dilakukan di dalam negeri, bahan bakunya masih didominasi impor sehingga perlu penguatan industri hulu farmasi.
"Seperti apa yang dijelaskan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif William Adi Teja bahan baku obat kita masih banyak impor. Maka, penguatan industri substitusi impor menjadi sangat penting," ungkapnya.
Ia menyatakan bahwa strategi penguatan industri hulu menjadi kunci dalam membangun kemandirian sektor kesehatan nasional.
Peran Industri Lokal dan Dukungan Rumah Sakit
Khofifah menilai kehadiran Satoria Pharma sebagai produsen infus di Indonesia merupakan contoh nyata upaya substitusi impor yang mulai terealisasi di daerah.
Ia mengapresiasi langkah perusahaan dalam merintis dan mengembangkan industri farmasi lokal yang dinilai mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di Kabupaten Pasuruan.
Selain itu, Khofifah menyoroti pentingnya dukungan sektor kesehatan, terutama rumah sakit milik pemerintah daerah yang menjadi pengguna utama produk farmasi.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat ini mengelola 14 rumah sakit, termasuk RSUD Dr Soetomo yang memiliki kapasitas tempat tidur besar di Indonesia.
"Kami berharap peningkatan produksi, terutama cairan infus dari Satoria Pharma, dapat menjamin pemenuhan kebutuhan rumah sakit di lingkungan Pemprov Jawa Timur," ujarnya.
Penguatan industri farmasi dalam negeri diharapkan mampu meningkatkan kemandirian nasional di sektor kesehatan.
- Penulis :
- Leon Weldrick







