
Pantau - Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menegaskan bahwa negaranya tetap menghormati prinsip “satu China”, termasuk dalam isu Taiwan, menjelang kunjungan kenegaraannya ke Beijing.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan CCTV China pada Jumat, 2 Januari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan Taiwan.
Lee menyebut Taiwan sebagai “isu terbesar yang masih tertunda” bagi China, dan menekankan bahwa perdamaian serta stabilitas di Asia Timur Laut sangat krusial.
Kunjungan Resmi Dibarengi Delegasi Ekonomi
Kunjungan kenegaraan Presiden Lee ke China akan berlangsung selama empat hari mulai Minggu, 4 Januari 2026, dan akan diikuti oleh delegasi ekonomi besar.
Kunjungan ini bertujuan memperkuat kerja sama di sektor teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).
Presiden Lee juga menekankan pendekatan diplomasi yang pragmatis, yaitu dengan tetap memperkuat aliansi dengan Amerika Serikat tanpa merusak hubungan dengan China.
Ia menyatakan pentingnya “otonomi strategis” dan menyampaikan harapannya agar pertemuan tahunan rutin dengan Presiden Xi Jinping dapat terwujud untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama bilateral.
Prinsip 1992 Tetap Jadi Pedoman Inti
Lee menegaskan bahwa Korea Selatan masih berpegang pada prinsip-prinsip yang disepakati saat menjalin hubungan diplomatik dengan China pada tahun 1992.
Prinsip itu, menurutnya, tetap menjadi pedoman inti hubungan bilateral kedua negara hingga saat ini.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, sebelumnya meminta Korea Selatan untuk mengambil pendekatan “bertanggung jawab” dan tetap mematuhi prinsip satu China.
Lawatan Presiden Lee ini juga menjadi bentuk timbal balik atas kunjungan Presiden Xi Jinping ke Korea Selatan saat KTT APEC di Gyeongju, dua bulan sebelumnya.
- Penulis :
- Gerry Eka








