
Pantau - Ketua Gerakan Pemuda Non-Blok (NAMYO) Indonesia, Tan Taufiq Lubis, mengkritik keras tindakan militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela, yang menurutnya melanggar hukum internasional, khususnya prinsip kedaulatan negara dan nonintervensi.
Taufiq menyatakan bahwa operasi militer AS tersebut tidak hanya melanggar hukum humaniter dan komitmen hak asasi manusia (HAM), tetapi juga merusak kerangka perdamaian yang dijunjung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
" Tindakan AS ini adalah agresi dan penjajahan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan," ujar Taufiq dalam pernyataan resminya.
Indonesia Tolak Kolonialisme dan Dukung Perdamaian Dunia
Taufiq juga menegaskan bahwa Indonesia tetap teguh menolak segala bentuk kolonialisme dan berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Ia mendorong organisasi pemuda internasional untuk membela hak-hak warga sipil, menegaskan kembali kedaulatan negara, dan menjunjung perdamaian sebagai prinsip politik yang tidak bisa ditawar.
" Kami menegaskan solidaritas pemuda Indonesia kepada rakyat dan pemuda Venezuela serta dukungan kepada kepemimpinan Bolivarian," tambah Taufiq, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP KNPI.
Kemlu RI Keprihatinan atas Situasi di Venezuela
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengungkapkan keprihatinannya atas situasi yang berkembang di Venezuela dan memperingatkan bahwa tindakan militer AS ini berisiko menjadi preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Kemlu RI juga menegaskan bahwa komunitas internasional harus menghormati hak rakyat Venezuela untuk menentukan masa depan negara mereka tanpa campur tangan eksternal.
Tindakan Militer AS di Venezuela
Pada Sabtu, 3 Januari 2026, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa pasukan AS telah melancarkan operasi militer besar di Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Tindakan ini menuai kecaman dari berbagai pihak di dunia, termasuk Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan








