
Pantau - Pemerintah China menyatakan keyakinannya bahwa Venezuela tetap memiliki kedaulatan penuh, meskipun Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer pada awal Januari 2025.
"China menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Venezuela, dan percaya bahwa pemerintah Venezuela akan menangani urusan internalnya dengan benar sesuai dengan Konstitusi dan hukum negara tersebut," ujar Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, 5 Januari 2025.
China Kecam Serangan AS, Ekspor Minyak Venezuela Terganggu
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap pertanyaan mengenai sikap China terhadap impor minyak Venezuela setelah penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh militer AS.
Maduro dan Flores ditangkap di Caracas pada Sabtu, 3 Januari, lalu diterbangkan ke New York dan ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.
"Penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap Venezuela secara serius melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar dalam hubungan internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan mengancam perdamaian dan keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia. China telah mengutuk hal ini," tegas Lin Jian.
Ia juga menyerukan kepada semua pihak agar menghormati hak Venezuela dalam menentukan jalur pembangunannya sendiri serta mendukung stabilitas dan pemulihan ketertiban di negara tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut, dan pemerintah Venezuela menuntut pembebasan dirinya serta sang istri.
Aktivitas Ekspor Minyak Terhenti, Produksi Terancam Turun
Serangan militer AS telah berdampak langsung pada aktivitas ekspor minyak Venezuela.
Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber anonim, ekspor minyak lumpuh akibat para kapten pelabuhan belum menerima izin keberangkatan untuk kapal-kapal bermuatan minyak.
Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah yang dijadwalkan berlayar ke AS dan Asia dilaporkan tidak bergerak dari pelabuhan.
Data dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers menunjukkan bahwa tidak ada kapal tanker yang mengisi muatan di pelabuhan utama minyak Venezuela di Jose pada hari Sabtu.
Beberapa kapal tanker bahkan meninggalkan Venezuela dalam keadaan kosong karena penghentian kegiatan ekspor.
Reuters menyebut bahwa kondisi ini dapat memaksa Venezuela untuk menurunkan produksi minyaknya dalam waktu dekat.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa sebuah kapal tanker yang awalnya menuju Venezuela mengubah haluan ke Nigeria, berdasarkan data pelacakan kapal dan informasi dari pialang maritim.
Empat kapal lainnya diketahui menghentikan pelayaran mereka setelah terjadinya serangan militer AS ke Venezuela.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








