Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Ambisi Amerika Serikat atas Greenland Picu Ketegangan Internal dan Pertanyaan Solidaritas NATO

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ambisi Amerika Serikat atas Greenland Picu Ketegangan Internal dan Pertanyaan Solidaritas NATO
Foto: (Sumber: Warga berbaris untuk melakukan protes di depan Kedutaan Besar AS di Kopenhagen, Denmark, pada 29 Maret 2025. ANTARA/Xinhua/Liu Zhichao.)

Pantau -  Ketegangan internal di dalam NATO mencuat menyusul ambisi Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland dari Denmark yang dinilai mengancam kedaulatan sesama negara anggota aliansi tersebut.

Situasi itu terlihat setelah delegasi Denmark dan Greenland dilaporkan meninggalkan Gedung Putih dengan raut wajah muram usai pertemuan dengan pihak Amerika Serikat.

Ambisi Greenland dan Tekanan terhadap Sekutu

Ambisi Washington untuk menguasai Greenland disebut telah berlangsung sejak abad ke-19 dan kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjabat.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump secara terbuka pernah menyatakan keinginan membeli Greenland dari Denmark.

Dalam periode kepemimpinan terbarunya, Trump berulang kali mendesak Denmark untuk menyerahkan Greenland dengan alasan keamanan nasional.

Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu momen paling ironis dalam sejarah NATO sejak aliansi itu didirikan.

Amerika Serikat yang diposisikan sebagai pemimpin de facto NATO disebut menyalahgunakan kekuasaan untuk menekan sesama anggota aliansi.

Respons negara-negara anggota NATO lainnya terhadap situasi ini dinilai lemah dan sebatas simbolik.

Salah satu respons tersebut berupa peningkatan kehadiran militer di Greenland dengan jumlah pasukan yang tidak signifikan.

Dampak terhadap Soliditas NATO

Sikap Amerika Serikat dinilai mengirim pesan mengkhawatirkan kepada sekutu-sekutunya bahwa Washington akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kepentingannya.

Kondisi tersebut memunculkan persepsi bahwa Amerika Serikat tidak membedakan antara sekutu dan pihak yang dianggap lawan.

Ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat disebut menekan sesama anggota NATO dalam konteks kepentingan nasional.

Pada awal masa jabatan keduanya, Trump juga secara terbuka menyampaikan keinginan agar Kanada menjadi negara bagian ke-52 Amerika Serikat.

Pemerintahan Trump turut terus menekan negara-negara NATO agar meningkatkan kontribusi biaya pertahanan.

Situasi ini dinilai memperlebar perpecahan di dalam tubuh NATO.

Aliansi yang lahir pada era Perang Dingin tersebut disebut telah kehilangan alasan utama pendiriannya.

NATO kini dianggap lebih berfungsi sebagai alat Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoni global.

Ketika kepentingan sepihak lebih diutamakan, konsep pertahanan kolektif dinilai hanya menjadi retorika.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai makna solidaritas NATO ketika anggota terkuatnya justru menekan anggota lain.

Penulis :
Aditya Yohan