
Pantau - Pemerintah Iran merilis data resmi pertama terkait jumlah korban tewas dalam gelombang kerusuhan yang mengguncang negara itu sejak akhir Desember 2025, dengan total korban mencapai 3.117 orang.
Data Resmi dan Kerusakan Fasilitas Publik
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengutip laporan Organisasi Kedokteran Forensik Iran pada Rabu (21 Januari 2026), yang menyebutkan bahwa ribuan orang meninggal dalam kerusuhan, termasuk 2.427 orang yang digambarkan sebagai "warga sipil dan aparat keamanan yang tidak bersalah."
Ini menjadi angka resmi pertama dari pemerintah Iran setelah sebelumnya hanya menyatakan bahwa ada "beberapa ribu" korban tewas tanpa merinci jumlah pastinya.
Sementara itu, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 4.560 orang, namun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Kerusuhan juga menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur publik, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita semiresmi Tasnim.
Lebih dari 460 gedung pemerintah rusak atau dibakar, lebih dari 700 bank menjadi sasaran serangan, serta 480 masjid turut mengalami kerusakan dalam gelombang aksi tersebut.
Penyebab Kerusuhan dan Respons Pemerintah
Gelombang demonstrasi yang menyebar ke puluhan kota di Iran dipicu oleh depresiasi tajam nilai tukar mata uang nasional, rial, yang memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.
Pemerintah Iran mengakui adanya unjuk rasa dan menyatakan kesiapan untuk menangani keluhan rakyat terkait masalah ekonomi.
Namun, pemerintah juga mengingatkan agar demonstrasi tidak berkembang menjadi aksi kekerasan dan vandalisme.
Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi rusuh pada 8 dan 9 Januari 2026, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa.
Pihak berwenang Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Dalam artikel opini yang diterbitkan di Wall Street Journal pada Selasa (20 Januari 2026), Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa "fase kekerasan dari kerusuhan berlangsung kurang dari 72 jam" sebelum berhasil dikendalikan oleh pasukan keamanan.
Ia juga menuduh bahwa ancaman dari Amerika Serikat mendorong para perencana untuk melaksanakan strategi yang ia sebut sebagai "pertumpahan darah maksimal."
"Meski kami akan selalu memilih perdamaian daripada perang, jika Iran diserang kembali, angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut merupakan kontras dari "sikap menahan diri" yang ditunjukkan Iran pada bulan Juni 2025.
- Penulis :
- Shila Glorya







