
Pantau - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat menginginkan perubahan rezim di Kuba dalam sidang Senat Amerika Serikat pada Rabu, 28 Januari 2026.
Rubio menolak untuk mengesampingkan dukungan Amerika Serikat terhadap potensi perubahan rezim di Kuba.
Saat ditanya apakah ia akan mengesampingkan perubahan rezim di Kuba, Rubio menjawab, "Tidak. Saya pikir kami ingin melihat rezim di sana berubah."
Rubio menegaskan bahwa keinginan tersebut tidak otomatis berarti Amerika Serikat akan melakukan perubahan rezim secara langsung.
"Itu tidak berarti bahwa kita akan melakukan perubahan, tetapi kami ingin melihat perubahan," ungkap Rubio.
Rubio menyatakan bahwa perubahan rezim di Kuba akan membawa keuntungan bagi Amerika Serikat.
"Tidak diragukan lagi bahwa akan sangat menguntungkan bagi Amerika Serikat jika Kuba tidak lagi diperintah oleh rezim otokratis," ungkap Rubio.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menginginkan perubahan dalam pemerintahan Kuba.
Pernyataan Rubio muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap kebijakan pemerintahan Trump di kawasan Belahan Barat.
Pengawasan tersebut menguat setelah operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari yang berujung pada penangkapan dan pemindahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores.
Nicolas Maduro dan Cilia Flores diterbangkan ke New York setelah penggerebekan malam di kediaman mereka di Caracas.
Rubio membela langkah pemerintah Amerika Serikat dalam menangani operasi di Venezuela.
Ia menekankan bahwa penggunaan kekuatan militer tambahan saat ini tidak diharapkan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







