Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Isyaratkan Tenggat Waktu Tertutup bagi Iran, Peringatkan "Waktu Hampir Habis"

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Isyaratkan Tenggat Waktu Tertutup bagi Iran, Peringatkan "Waktu Hampir Habis"
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (ANTARA/Anadolu/py/am.).)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 30 Januari 2026, mengisyaratkan bahwa Gedung Putih telah menetapkan tenggat waktu secara tertutup bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya tekanan militer AS terhadap Teheran.

Saat ditanya oleh awak media apakah Iran telah diberi batas waktu resmi, Trump hanya menjawab, "Hanya mereka yang tahu pasti", tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai tenggat tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah eskalasi ketegangan antara kedua negara, menyusul kerusuhan nasional yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025.

Armada Militer AS Dikerahkan Dekat Iran

Pada Rabu, 28 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa sebuah "armada besar" yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln sedang dikerahkan menuju wilayah perairan sekitar Iran.

Ia menambahkan bahwa "waktu hampir habis" bagi Teheran untuk mengambil langkah menuju kesepakatan damai dengan AS.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai kemungkinan penarikan militer AS dari kawasan Timur Tengah, Trump menyatakan, "Kita lihat saja bagaimana perkembangannya. Mereka harus berada di suatu tempat, jadi sebaiknya mereka berada di dekat Iran."

Langkah ini dinilai sebagai bentuk tekanan tambahan terhadap Iran di tengah ketidakstabilan domestik dan meningkatnya isolasi internasional terhadap negara tersebut.

Iran Tegaskan Komitmen Diplomasi dan Tolak Ancaman

Menanggapi tekanan dari Amerika Serikat, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan perang dan tetap membuka ruang dialog.

"Iran terus berupaya untuk berdialog dan tidak menginginkan perang," ungkap Pezeshkian.

Ia juga mengkritik negara-negara Barat yang dinilai tidak menunjukkan komitmen terhadap diplomasi dan hukum internasional, serta menegaskan bahwa pendekatan Iran adalah "diplomasi berbasis martabat" yang mengutamakan saling menghormati dan menolak ancaman.

"Setiap agresi terhadap negara dan rakyatnya akan direspons dengan cepat dan tegas," tegasnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam pernyataannya di Istanbul menyampaikan bahwa Iran tetap terbuka untuk bernegosiasi, namun menolak melakukannya di bawah tekanan militer.

"Iran terbuka untuk bernegosiasi dengan AS," ujarnya, "Namun tidak akan melakukan perundingan di bawah ancaman."

AS Ajukan Syarat Ketat, Iran Menolak

Dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung, Amerika Serikat disebut telah mengajukan sejumlah persyaratan yang mencakup:

  • Larangan pengayaan uranium,
  • Pemusnahan uranium yang telah diperkaya,
  • Pembatasan pengembangan rudal jarak jauh,
  • Dan penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan.

Seluruh persyaratan tersebut telah ditolak oleh pemerintah Iran, yang menyatakan bahwa syarat-syarat tersebut mengganggu kedaulatan dan tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan dalam hubungan internasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf