
Pantau - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, pada Rabu (4/2), secara resmi menyerahkan daftar anggota panel ilmiah internasional baru tentang kecerdasan buatan (AI) kepada Majelis Umum PBB.
Panel tersebut bernama Independent International Scientific Panel on Artificial Intelligence, atau Panel Ilmiah Internasional Independen tentang Kecerdasan Buatan.
Panel ini terdiri dari 40 individu terkemuka dari berbagai negara yang akan bertugas selama tiga tahun sejak tanggal pengangkatan.
"Hari ini, kami mengambil langkah penting untuk membantu memastikan kecerdasan buatan dapat melayani seluruh umat manusia," ungkap Guterres dalam pernyataannya di hadapan Majelis Umum.
Panel Independen dan Global Pertama
Guterres menegaskan bahwa panel ini akan menjadi badan ilmiah global pertama yang sepenuhnya independen dan didedikasikan untuk menilai serta menutup kesenjangan pengetahuan terkait kecerdasan buatan.
"Ini akan menjadi badan ilmiah global pertama yang sepenuhnya independen dan didedikasikan untuk membantu menutup kesenjangan pengetahuan tentang AI dan menilai dampak nyata AI terhadap perekonomian dan masyarakat," ia mengungkapkan.
Panel ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan otoritatif di tengah meningkatnya kebutuhan akan pemahaman terhadap AI yang netral, andal, dan tidak bias.
Ke-40 anggota panel dipilih melalui seruan terbuka global yang berhasil menarik lebih dari 2.600 pelamar dari berbagai belahan dunia.
Tugas dan Misi Panel AI PBB
Semua anggota panel akan menjalankan tugasnya dalam kapasitas pribadi dan bersifat independen, tanpa intervensi dari pemerintah, perusahaan, maupun institusi mana pun.
Menurut Guterres, perkembangan AI yang begitu cepat memerlukan kerja sama lintas negara yang berlandaskan ilmu pengetahuan.
"AI sedang mentransformasi dunia kita. Pertanyaannya adalah apakah kita akan membentuk transformasi ini bersama-sama, atau membiarkannya membentuk kita," tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama global dalam menghadapi ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi yang semakin tajam.
"Di tengah ketegangan geopolitik yang mendalam dan persaingan teknologi yang kian sengit, kita sangat membutuhkan titik temu -- dan dasar praktis untuk kerja sama yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan solidaritas. Itulah yang akan dibantu untuk diwujudkan oleh panel tersebut," tambahnya.
- Penulis :
- Leon Weldrick







