Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Celios Dorong Percepatan Transisi Energi dan Revisi APBN untuk Jaga Pasokan BBM di Tengah Konflik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Celios Dorong Percepatan Transisi Energi dan Revisi APBN untuk Jaga Pasokan BBM di Tengah Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py..)

Pantau - Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai percepatan transisi energi serta revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perlu dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi global serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara menekankan pentingnya percepatan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

"Percepat transisi energi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan dari air, angin, dan surya," kata Bhima Yudhistira Adhinegara.

Menurutnya pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga air, angin, dan surya dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Ia juga menilai percepatan elektrifikasi sektor transportasi publik berbasis kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) perlu didorong untuk menekan ketergantungan terhadap impor BBM.

Pengurangan penggunaan energi fosil pada pembangkit listrik juga dinilai menjadi langkah penting untuk meredam dampak kenaikan harga minyak global terhadap perekonomian domestik.

Usulan Revisi APBN dan Realokasi Anggaran

Bhima juga menekankan pentingnya memperkuat bantalan fiskal negara guna menjaga kesehatan keuangan badan usaha milik negara di sektor energi seperti Pertamina dan PLN.

Ia menilai pemerintah perlu segera melakukan revisi terhadap APBN untuk mengantisipasi lonjakan beban subsidi energi apabila harga minyak dunia terus meningkat.

Bhima menyarankan agar pemerintah melakukan realokasi anggaran dengan menggeser belanja yang tidak menjadi prioritas.

Menurutnya langkah tersebut lebih baik dibandingkan menambah utang baru.

"Realokasi anggaran ke subsidi energi mendesak dilakukan. Diperkirakan butuh alokasi tambahan hingga Rp340 triliun untuk jaga agar defisit APBN tidak melebar. Sebaiknya realokasi jangan menambah utang baru," ujar Bhima.

Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Energi Global

Ketegangan global meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran termasuk di Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC) menyatakan Iran telah melancarkan gelombang kesembilan serangan terhadap Israel dan target Amerika Serikat di kawasan tersebut.

"Gelombang kesembilan Operasi True Promise 4 telah dimulai terhadap target-target di seluruh wilayah pendudukan dan target-target AS di Timur Tengah," kata IRGC.

IRGC juga menyebut angkatan udara Iran menghancurkan sistem pertahanan rudal THAAD dalam serangan di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.

Dampak konflik juga terlihat pada jalur pelayaran global.

Sekitar 200 kapal tanker dilaporkan terjebak di pintu masuk Selat Hormuz di Teluk Oman pada Selasa 3 Maret.

Data MarineTraffic yang dianalisis oleh RIA Novosti menunjukkan jumlah kapal yang terjebak mencapai sekitar 300 kapal.

Saat ini tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

  • Secara geografis pantai utara Selat Hormuz merupakan wilayah Iran.
  • Sementara pantai selatan Selat Hormuz dimiliki oleh Uni Emirat Arab dan Oman.

Konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah tersebut menghentikan pengiriman energi melalui Selat Hormuz yang merupakan rute utama distribusi minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas).

Penulis :
Aditya Yohan