
Pantau - Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan puing-puing misil dan drone, pembatasan ruang udara, serta aksi permusuhan telah meningkatkan korban sipil, merusak infrastruktur, dan mengganggu layanan penting di Timur Tengah.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut operasi kemanusiaan di kawasan terdampak parah akibat situasi tersebut.
"Operasi kemanusiaan di seluruh kawasan tersebut terdampak parah oleh ketidakamanan, gangguan rantai pasok, dan penutupan ruang udara," kata OCHA.
OCHA melaporkan bahwa di Iran, serangan sejak Sabtu (28/2) berdampak pada lebih dari 1.000 lokasi, menyebabkan sekitar 790 kematian dan hampir 750 korban luka, termasuk di area permukiman padat penduduk yang menunjukkan kerusakan infrastruktur sipil.
Juru bicara utama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan Guterres memantau situasi dengan keprihatinan mendalam.
"Dia sangat khawatir tentang munculnya berbagai front baru. Kami juga menyaksikan peningkatan jumlah korban sipil dan dampak kemanusiaan yang parah terhadap kesejahteraan masyarakat di seluruh kawasan itu," katanya.
Ketegangan di Garis Biru dan Gaza
Dujarric juga mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk dapat berdampak dramatis terhadap ekonomi global yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Ia menyampaikan aktivitas di sepanjang Garis Biru Israel-Lebanon yang dijaga Pasukan Sementara PBB di Lebanon sangat mengkhawatirkan.
"Dalam dua hari terakhir, pasukan penjaga perdamaian UNIFIL kami mencatat puluhan roket dan misil yang ditembakkan ke Israel yang diklaim oleh Hizbullah, serta beberapa serangan udara dan insiden penembakan dari selatan Garis Biru oleh Israel ke Lebanon," kata Dujarric.
Di tengah situasi tersebut, OCHA menyebut otoritas Israel membuka kembali perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem untuk masuknya 500.000 liter bahan bakar dan bantuan kemanusiaan melalui Israel dan Mesir.
OCHA menegaskan sekitar 300.000 liter bahan bakar per hari diperlukan untuk mempertahankan operasi kemanusiaan krusial di Gaza, sementara Pelintasan Rafah dan Zikim masih ditutup serta rotasi staf kemanusiaan internasional dihentikan.
Tantangan Operasi di Iran dan Tepi Barat
Di Tepi Barat, pasukan Israel disebut masih menutup sebagian besar pos pemeriksaan sehingga membatasi kebebasan bergerak warga Palestina dan memengaruhi distribusi bantuan kemanusiaan.
OCHA juga melaporkan bahwa pemukim Israel menewaskan dua warga Palestina dan melukai tiga lainnya saat menyerbu Desa Qaryut di Nablus.
Under-secretary-general PBB untuk urusan kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat Tom Fletcher mengatakan, "Dampak kemanusiaan akibat eskalasi kekerasan di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan," kata Fletcher.
Fletcher menyampaikan OCHA meningkatkan operasi di lokasi yang memungkinkan serta mengaktifkan rencana cadangan di Iran dan kawasan lain seperti Lebanon, wilayah Palestina yang diduduki, Suriah, dan Yaman.
"Keterbatasan kehadiran lembaga swadaya masyarakat internasional dan ruang operasional di Iran membuat tantangan di sana menjadi lebih besar," kata Fletcher.
"Penghormatan terhadap hukum kemanusiaan internasional kembali diuji dan terkikis. Setiap kali infrastruktur sipil terkena serangan, akses dibatasi, dan bantuan dipolitisasi, ruang untuk aksi kemanusiaan menyempit, sehingga semakin sulit menjangkau komunitas yang kami layani," ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







