Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Bank Indonesia Promosikan Transaksi Mata Uang Lokal untuk Perkuat Kerja Sama Bisnis Indonesia–China

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Bank Indonesia Promosikan Transaksi Mata Uang Lokal untuk Perkuat Kerja Sama Bisnis Indonesia–China
Foto: (Sumber : Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bejing Yulian Wihantoro dalam acara "Indonesia – China Business Dialogue" di Changsha, provinsi Hunan pada Selasa (10/3/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia).)

Pantau - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Beijing Yulian Wihantoro mempromosikan efisiensi transaksi keuangan lintas negara melalui kerangka transaksi mata uang lokal dalam acara Indonesia–China Business Dialogue di Changsha, Provinsi Hunan, China.

Acara tersebut diselenggarakan oleh KBRI Beijing bekerja sama dengan Indonesia Investment Promotion Center Beijing dan dihadiri sekitar 200 pengusaha dari China dan Indonesia.

Yulian menilai efisiensi transaksi keuangan lintas negara menjadi faktor penting yang sering terabaikan ketika perusahaan melakukan ekspansi internasional.

Ia mengatakan, "Ketika perusahaan melakukan ekspansi internasional dan perusahaan China dikenal memiliki inisiatif untuk berekspansi secara global, ada satu faktor penting yang kadang terabaikan, yaitu efisiensi transaksi keuangan lintas negara."

Menurutnya sistem keuangan yang efisien dapat membantu dunia usaha menekan biaya transaksi, mengelola risiko, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Yulian mengatakan, "Sistem keuangan yang efisien membantu dunia usaha mengurangi biaya, mengelola risiko, serta meningkatkan efisiensi operasional. Di sinilah kerja sama keuangan antara Indonesia dan China menjadi sangat relevan dan penting."

Transaksi Langsung Rupiah dan Renminbi

Yulian menjelaskan Bank Indonesia dan Bank Sentral China pada Mei 2025 telah menandatangani Kerangka Kerja Sama Transaksi Bilateral dalam Mata Uang Lokal.

Kerja sama tersebut memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi antara kedua negara diselesaikan langsung menggunakan rupiah dan renminbi.

Langkah ini mengurangi ketergantungan pada mata uang pihak ketiga sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.

Bagi pelaku usaha kebijakan tersebut dapat menurunkan biaya transaksi karena perusahaan tidak perlu menggunakan banyak mata uang.

Selain itu proses penyelesaian transaksi juga menjadi lebih cepat karena perbedaan zona waktu Indonesia dan China hanya sekitar satu jam.

Sistem tersebut juga membantu perusahaan mengelola risiko nilai tukar terutama dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

Yulian mengatakan, "Hal ini memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus dalam memperluas bisnis, operasi, dan kemitraan."

Ia menambahkan bahwa kerangka transaksi mata uang lokal terus berkembang dengan jumlah perusahaan serta nilai transaksi yang meningkat secara signifikan.

China kini menyumbang porsi besar transaksi mata uang lokal di luar negara-negara ASEAN.

Penguatan Investasi dan Pembayaran Digital

Indonesia dan China juga memperkuat konektivitas pembayaran digital lintas negara melalui sistem pembayaran berbasis kode QR.

Sistem tersebut bertujuan memudahkan wisatawan, konsumen, serta pelaku usaha dalam melakukan pembayaran menggunakan aplikasi domestik.

Dukungan pembayaran digital lintas negara tersebut direncanakan dapat digunakan melalui aplikasi Alipay mulai Mei 2026.

Dalam acara tersebut Vice President CNGR Indonesia Chen Hailei menyampaikan bahwa Indonesia sejak awal menjadi salah satu tujuan utama ekspansi luar negeri perusahaan.

Ia mengatakan, "Indonesia sejak awal telah menjadi salah satu negara utama tujuan ekspansi luar negeri kami. Pada 2011, kami datang ke Jakarta, dan sejak saat itu kami memulai keseluruhan investasi kami di Indonesia."

Chen menjelaskan CNGR di Indonesia kini telah menjadi basis usaha lengkap yang mencakup produk, perencanaan, serta tata letak industri.

Perusahaan tersebut juga telah mendaftarkan banyak perusahaan lain di Indonesia serta menyediakan teknologi dan menciptakan lapangan kerja.

Chen mengatakan, "Meski skala tim industri kami sekarang sangat besar, banyak hal itu sebenarnya dicapai hanya dalam waktu singkat, sekitar lima tahun."

Produk yang dihasilkan di Indonesia antara lain bahan untuk baterai, material ternary, serta berbagai bentuk produk lain yang diproduksi sesuai standar global.

Ia mengatakan, "Produk yang kami hasilkan di Indonesia, seperti produk dalam rantai industri kami, termasuk bahan untuk baterai, material ternary, dan berbagai bentuk produk lain, semuanya diproduksi sesuai standar global."

Chen juga menjelaskan bahwa karakteristik bahan baku di Indonesia lebih beragam dibandingkan di China sehingga perusahaan harus mengembangkan proses industri baru untuk menyesuaikan kondisi tersebut.

Ia menambahkan pengusaha China yang ingin berinvestasi di Indonesia perlu memahami kondisi politik serta sistem hukum yang berlaku karena terdapat perbedaan cukup besar antara kedua negara.

Chen mengatakan, "Struktur politik dan mekanisme regulasinya juga berbeda dari China. Di China pemerintah mungkin lebih menonjol sebagai pihak pengawasan, sedangkan di Indonesia fungsi pelayanan dan pengawasan berjalan lebih bersamaan."

Penulis :
Ahmad Yusuf