
Pantau - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyatakan bahwa minyak dari cadangan darurat negara anggota di kawasan Asia dan Oseania akan segera dilepas ke pasar global guna membantu menstabilkan pasar energi dunia yang terdampak konflik di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh International Energy Agency pada Minggu 15 Maret 2026.
IEA menjelaskan bahwa minyak dari cadangan darurat tersebut akan segera mulai mengalir ke pasar global setelah negara-negara anggota menyerahkan rencana implementasi masing-masing.
Rencana tersebut menguraikan cara dan mekanisme pelepasan cadangan minyak yang telah disepakati.
Cadangan minyak dari negara anggota di kawasan Amerika dan Eropa dijadwalkan mulai tersedia pada akhir Maret 2026.
Negara Anggota Sepakati Pelepasan 400 Juta Barel Minyak
International Energy Agency menyampaikan bahwa 32 negara anggotanya telah menyepakati pelepasan cadangan minyak darurat.
Kesepakatan tersebut dicapai secara bulat pada 11 Maret 2026.
Total cadangan minyak yang akan dilepas ke pasar global mencapai 400 juta barel.
Pelepasan cadangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dari jumlah tersebut sebanyak 271,7 juta barel berasal dari cadangan pemerintah.
Sebanyak 116,6 juta barel berasal dari cadangan industri yang diwajibkan.
Sementara sebanyak 23,6 juta barel berasal dari sumber lainnya.
Sekitar 72 persen dari pelepasan cadangan tersebut berupa minyak mentah.
Sementara sisanya sebanyak 28 persen merupakan produk minyak olahan.
Gangguan Pasokan Terbesar dalam Sejarah Pasar Minyak
IEA menyebut konflik yang terjadi di Timur Tengah telah memicu gangguan pasokan energi yang sangat besar di pasar global.
"Perang yang sedang berkecamuk di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global", ungkapnya.
IEA menjelaskan bahwa pelepasan cadangan secara terkoordinasi tersebut merupakan tindakan darurat kolektif terbesar yang pernah dilakukan oleh negara-negara anggota.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi penopang penting bagi pasokan minyak global di tengah ketidakpastian pasar energi.
Meskipun demikian, pemulihan pengiriman normal melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor paling krusial dalam menstabilkan pasar minyak dunia.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







