
Pantau - Korea Selatan (Korsel) mencapai kesepakatan dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendapatkan prioritas pasokan minyak di tengah krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut diumumkan Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Duta Khusus Kerja Sama Ekonomi Strategis Korsel Kang Hoon-sik pada Rabu (18/3) setelah pertemuan pejabat kedua negara yang membahas langkah konkret menghadapi krisis Timur Tengah.
Kesepakatan Prioritas Pasokan Minyak
Kang menyatakan bahwa UEA berkomitmen memberikan prioritas utama kepada Korsel dalam distribusi minyak di tengah gangguan pasokan global.
"Hal tersebut tertulis jelas: 'Tak ada negara yang akan menerima minyak sebelum Korea Selatan. Korea Selatan adalah prioritas utama untuk suplai minyak,'" ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 70 persen impor minyak Korsel selama ini melalui Selat Hormuz yang kini ditutup sehingga pemerintah mencari jalur alternatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara menyetujui pengiriman darurat sebesar 18 juta barel minyak melalui berbagai rute alternatif.
Rincian Pengiriman dan Kerja Sama Lanjutan
Pengiriman minyak dilakukan menggunakan kapal tanker dari kedua negara, yakni tiga kapal UEA mengangkut 6 juta barel dan enam kapal tanker Korsel membawa 12 juta barel.
Kang juga mengungkapkan bahwa satu kapal tanker berisi nafta saat ini sedang dalam perjalanan menuju Korsel.
Dengan tambahan pengiriman sebelumnya sebesar 6 juta barel, total pasokan darurat yang diterima Korsel dari UEA kini mencapai 24 juta barel.
Selain itu, kedua negara sepakat menjajaki kerja sama jangka panjang melalui nota kesepahaman terkait rantai pasok minyak termasuk pencarian rute pengapalan alternatif dan koordinasi di tengah disrupsi energi global.
Kang turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah UEA atas dukungan terhadap evakuasi warga Korsel dari kawasan Teluk di tengah meningkatnya ketegangan regional.
- Penulis :
- Aditya Yohan







