
Pantau - Pengungsi di Lebanon merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah dalam kondisi serba terbatas di kamp-kamp darurat akibat konflik berkepanjangan dengan Israel yang memaksa lebih dari satu juta orang meninggalkan rumah mereka.
Idul Fitri Tanpa Rumah dan Tradisi
Di wilayah pesisir Sidon, sekitar 40 kilometer selatan Beirut, para pengungsi tinggal di tenda-tenda sederhana dengan fasilitas terbatas.
Raeda Qabalan, warga yang mengungsi dari Mays al-Jabal, mengatakan perayaan tetap dilakukan meski kondisi berubah drastis.
Ia mengungkapkan, "Hari Raya Idul Fitri akan tetap ada, dan kami akan merayakannya walaupun segala sesuatu di sekitar kami telah berubah."
Anak-anak pengungsi mengisi waktu dengan aktivitas sederhana di sekitar tenda tanpa sekolah maupun perayaan seperti biasanya.
Mohammad Sobeh (10) menggambarkan rumahnya yang hancur akibat serangan udara.
Ia mengatakan, "Begini rupa rumah kami sebelum serangan. Dulu kami merayakan Idul Fitri di sana."
Hidup di Pengungsian dan Harapan Akhiri Konflik
Lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi sejak meningkatnya serangan militer di wilayah selatan dan timur negara tersebut.
Sebagian besar pengungsi tinggal di sekolah, kota pegunungan, hingga kamp darurat sepanjang pantai sejak awal Ramadan hingga Idul Fitri.
Samia al-Abdallah mengungkapkan dampak psikologis konflik terhadap anak-anak.
Ia mengatakan, "Dia bahkan bertanya bagaimana kami akan membangun kembali rumah kami dan membeli pakaian baru."
Kondisi serupa juga dirasakan keluarga lain yang kehilangan tradisi Idul Fitri seperti membeli pakaian baru dan berkumpul bersama keluarga besar.
Samira Srour menyampaikan perubahan drastis yang dialami keluarganya.
Ia mengungkapkan, "Sekarang kami hidup di tengah perang yang telah merampas kegembiraan momen-momen tersebut."
Siklus Pengungsian yang Terus Berulang
Konflik yang telah berlangsung sejak 2023 menyebabkan banyak warga mengalami pengungsian berulang meski sempat terjadi gencatan senjata pada 2024.
Dawoud Ayash (70) menilai Idul Fitri kehilangan makna akibat tercerainya keluarga.
Ia mengatakan, "Dahulu, Idul Fitri menyatukan keluarga. Dengan keluarga yang terpencar, hari raya ini kehilangan jiwanya."
Para pengungsi berharap konflik segera berakhir agar dapat kembali ke rumah dan menjalani kehidupan normal.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








