
Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan Rumah Markas Gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) di Nawangan, Pacitan, Jawa Timur, menjadi bukti nyata perjuangan fisik Indonesia yang memperkuat posisi diplomasi di tingkat internasional.
Peran Strategis dalam Perjuangan Kemerdekaan
Fadli Zon menjelaskan markas tersebut menjadi bagian penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada masa Agresi Militer II.
"Karena perlawanan fisik yang ada di Sumatera dan di Jawa, termasuk dipimpin oleh Jenderal Sudirman di Jawa terutama, itu memberikan sinyal kepada delegasi kita bahwa Indonesia masih ada dan masih terus melawan kolonialisme Belanda," ujarnya.
Rumah tersebut digunakan sebagai markas gerilya Jenderal Sudirman pada periode 1 April hingga 7 Juli 1949 sebelum kembali ke Yogyakarta.
Keberadaan markas ini menunjukkan bahwa perjuangan fisik di berbagai wilayah, termasuk oleh Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera, menjadi bukti eksistensi Indonesia di mata dunia.
Situs Sejarah Jadi Sarana Edukasi
Selain meninjau markas, Menteri Kebudayaan juga mengunjungi kawasan Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman yang berada di lokasi yang sama.
Di kawasan tersebut terdapat diorama perjuangan gerilya serta ruang edukasi yang menggambarkan strategi perang dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam merawat situs bersejarah sebagai sumber pembelajaran publik dan penguat karakter bangsa.
Pemerintah berharap markas gerilya APRI tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami nilai perjuangan dan semangat pantang menyerah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







