Pantau Flash
HOME  ⁄  Lifestyle

Pantai Ambalat Tawarkan Pengalaman Glamping Romantis hingga Potensi Ekowisata di Kalimantan Timur

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pantai Ambalat Tawarkan Pengalaman Glamping Romantis hingga Potensi Ekowisata di Kalimantan Timur
Foto: (Sumber: Seorang pengunjung yang glamping di Pantai Ambalat menikmati deru ombak sembari menyeruput kopi. ANTARA/Ahmad Rifandi.)

Pantau - Sarapan sambil menikmati sunrise di lengkungan laut Pantai Ambalat menghadirkan pengalaman pagi yang memikat, diiringi suara deburan ombak dan kicauan burung pinus.

Momen sunset di sore hari juga menjadi daya tarik utama, sangat cocok untuk diabadikan bersama orang-orang tercinta.

Ketika malam tiba, pantai ini menyuguhkan interaksi alami antara manusia dan alam, seperti kemunculan kepiting pasir dan kelomang di sepanjang bibir pantai.

"Tempatnya asyik, suasananya romantis, dan kebetulan saya berkemah bareng istri," ujar Indra Shanum, pengunjung asal Samarinda.

Indra dan istrinya memilih menikmati Pantai Ambalat dengan konsep glamping (glamorous camping) sambil menyeruput kopi susu di depan tenda.

Fasilitas glamping di Pantai Ambalat menawarkan kenyamanan berupa kasur empuk, tenda tebal, dan suasana hening malam tanpa harus bersusah payah mendirikan tenda atau tidur di atas tanah dingin.

Fasilitas dan Akses ke Pantai Ambalat

Terdapat enam titik lokasi penginapan di kawasan Pantai Ambalat yang menyediakan berbagai variasi cottage dan paket glamping.

Masing-masing penginapan menyasar segmen pasar berbeda, mulai dari keluarga kecil hingga rombongan komunitas.

Pengunjung glamping dapat lebih leluasa menikmati suasana pantai tanpa harus direpotkan urusan logistik.

Pantai Ambalat berlokasi di Desa Ambarawang Laut dan bisa ditempuh sekitar satu jam dari Kota Balikpapan atau dua jam dari Kota Samarinda.

Rombongan Otorita IKN bahkan pernah mengunjungi pantai ini, menandakan bahwa kawasan ini termasuk dalam radar pengembangan sebagai penyangga Ibu Kota Negara baru.

Syahrudin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ambarawang Laut, menyebut pantai ini sebagai peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.

Pokdarwis menjadi motor utama pengembangan kawasan wisata bersama masyarakat lokal.

"Awalnya akses kendaraan menuju ke sini cukup sulit. Hanya dikelilingi hutan belantara," kenang Syahrudin, mengingat masa awal pengembangan pada tahun 2010.

Peresmian awal Pantai Ambalat dilakukan oleh Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Rita Widyasari, sebagai langkah awal pengembangan wisata pesisir.

Titik Balik Pengembangan dan Potensi Ekowisata

Setelah hampir satu dekade berkembang perlahan, tahun 2019 menjadi titik balik dengan terbentuknya Pokdarwis secara resmi.

Sejak saat itu, pengelolaan kawasan mulai tertata dan lebih profesional.

Syahrudin menyadari bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk menarik wisatawan.

"Penting adanya infrastruktur, manajemen, dan kolaborasi," ia mengungkapkan.

Bantuan CSR dari PLN yang masuk pada 2019 turut mendukung pengembangan infrastruktur dasar, termasuk jaringan listrik dan pembangunan titian ke arah laut.

Kehadiran listrik membuat kawasan pantai bisa hidup selama 24 jam.

Pemilik lahan mulai membangun fasilitas cottage, dan warung serta kedai bermunculan melayani wisatawan yang ingin menikmati senja sambil minum kopi.

Ekonomi lokal mulai bergerak, terutama saat akhir pekan.

Pada hari Sabtu dan Minggu, kendaraan roda empat yang masuk bisa mencapai hingga 200 unit, sementara kendaraan roda dua jauh lebih banyak.

Tarif masuk ditetapkan sebesar Rp30.000 untuk mobil, Rp15.000 untuk motor, dan Rp150.000 untuk bus.

Pendapatan dari tiket masuk dan parkir dikelola oleh Pokdarwis yang beranggotakan 15 orang.

Dana tersebut digunakan untuk perbaikan akses jalan dan operasional kebersihan pantai.

Pantai Ambalat juga menyimpan potensi ecotourism dengan keberadaan ekosistem mangrove alami.

Hutan mangrove di sekitar pantai menjadi habitat satwa endemik Kalimantan seperti bekantan dan monyet ekor panjang.

Pokdarwis berencana membangun jembatan susur bakau agar pengunjung dapat menikmati keindahan mangrove dan melihat bekantan di habitat aslinya tanpa mengganggu ekosistem.

Fasilitas tambahan terus dikembangkan, seperti pembangunan gazebo untuk tempat istirahat keluarga.

Wahana permainan seperti ATV juga sudah tersedia, meski masih dikelola oleh warga secara pribadi.

Pengelolaan wahana belum sepenuhnya berada di bawah manajemen Pokdarwis.

Dengan pesona alam dan pengelolaan yang tepat, Pantai Ambalat mencerminkan semangat masyarakat Kalimantan Timur dalam membangun kemandirian melalui pemberdayaan desa wisata.

Penulis :
Gerry Eka