
Pantau - Paparan polusi udara secara terus-menerus selama masa kanak-kanak dapat berdampak serius terhadap kesehatan individu saat dewasa, termasuk meningkatkan risiko penyakit kronis dan gangguan pernapasan.
Anak Rentan Serap Polutan Lebih Banyak
Dr. AS Sandhya, dokter spesialis paru-paru dari Kailash Hospital & Neuro Institute, India, menjelaskan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap polusi udara karena paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Selain itu, anak-anak bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa, sehingga menyerap lebih banyak polutan per kilogram berat badan.
Polusi udara disebabkan oleh partikel halus seperti PM2.5, nitrogen dioksida, serta senyawa beracun dari emisi kendaraan, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar fosil.
Partikel mikroskopis ini dapat menembus hingga ke paru-paru dan masuk ke aliran darah, menimbulkan peradangan kronis dan stres oksidatif.
Paparan jangka panjang juga berpotensi merusak DNA, mengganggu pertumbuhan sel normal, dan meningkatkan risiko kanker di masa depan.
Pentingnya Pencegahan Sejak Dini
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan tingkat pencemaran udara tinggi sering mengalami penurunan kapasitas paru-paru, infeksi saluran pernapasan, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Meski gejala mungkin tampak ringan di usia dini, dampaknya bisa berkembang menjadi penyakit kronis di masa dewasa jika paparan terjadi secara terus-menerus.
Untuk mengurangi risiko, Dr. Sandhya menyarankan agar orang tua dan masyarakat:
Memantau indeks kualitas udara secara rutin.
Membatasi aktivitas anak di luar rumah saat polusi tinggi.
Menjaga ventilasi ruangan tetap baik dan bebas asap rokok.
Menggunakan masker yang pas saat udara tercemar.
Memberikan pola makan seimbang yang kaya buah dan sayuran untuk melawan stres oksidatif.
Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk deteksi dini masalah pernapasan.
Lebih luas, Dr. Sandhya menekankan perlunya kebijakan pemerintah dalam menurunkan emisi, mendorong penggunaan energi bersih, dan memperbanyak ruang terbuka hijau untuk memperbaiki kualitas udara secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Gerry Eka








