Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Kenali Gejala Fibrilasi Atrium, Gangguan Irama Jantung yang Dapat Picu Stroke Berat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kenali Gejala Fibrilasi Atrium, Gangguan Irama Jantung yang Dapat Picu Stroke Berat
Foto: (Sumber: Ilustrasi -- Pemeriksaan kesehatan jantung. (Pixabay).)

Pantau - Fibrilasi atrium merupakan salah satu bentuk gangguan irama jantung (aritmia) yang ditandai dengan detak jantung tidak teratur dan sering kali cepat akibat impuls listrik abnormal di serambi (atrium) jantung.

Gejala Sering Tak Terasa, Tapi Bisa Picu Stroke

Fibrilasi atrium menyebabkan kontraksi atrium menjadi tidak terkoordinasi (fibrilasi), sehingga aliran darah dari atrium ke ventrikel tidak efisien.

Menurut Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, kondisi ini membuat atrium gagal berkontraksi secara efektif dan hanya bergetar.

Data dari CDC menyebutkan bahwa gejala umum mencakup detak jantung tidak teratur, palpitasi (detak cepat), kelelahan ekstrem, pusing, dan sesak napas.

Namun, sebagian besar gejala bersifat samar dan bisa tidak terasa sama sekali, sehingga 30–60 persen penderita tidak menyadari mereka mengidapnya.

Banyak kasus baru ditemukan saat pemeriksaan denyut nadi atau melalui elektrokardiografi (EKG).

Deteksi dini sangat penting agar dokter dapat melakukan pemantauan dan terapi yang tepat untuk mencegah komplikasi seperti stroke atau gagal jantung.

Faktor Pemicu dan Risiko Stroke Lima Kali Lipat Lebih Tinggi

Penyebab fibrilasi atrium dapat berasal dari faktor struktural, elektrik, dan metabolik.

Beberapa kondisi yang dapat memicu gangguan ini meliputi hipertensi, penyakit arteri koroner, dan kelainan katup jantung.

Tekanan pada jaringan atrium dari kondisi tersebut dapat memicu impuls listrik abnormal yang menyebabkan irama jantung cepat dan tidak teratur.

Faktor risiko lainnya termasuk apnea tidur, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, dan gangguan tiroid.

United States National Heart, Lung, and Blood Institute juga menyebut penuaan, tekanan darah tinggi, dan riwayat kejadian jantung sebelumnya sebagai penyebab umum.

Faktor tambahan seperti genetika, peradangan, dan gaya hidup—termasuk lonjakan konsumsi kafein, dehidrasi, stres, dan penggunaan obat stimulan—juga dapat memicu fibrilasi atrium.

Gangguan ini berkaitan erat dengan risiko stroke karena detak jantung yang tidak teratur dapat menyebabkan darah menggenang, khususnya di apendiks atrium kiri.

Genangan ini dapat membentuk bekuan darah yang kemudian terlepas dan bergerak ke otak, memicu stroke iskemik dengan gejala neurologis mendadak.

Menurut American Heart Association, penderita fibrilasi atrium memiliki risiko stroke sekitar lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang sehat.

Jenis stroke ini juga cenderung lebih parah dan melumpuhkan.

Terapi Gabungan untuk Jaga Irama dan Lindungi Fungsi Jantung

Penanganan fibrilasi atrium tidak hanya bertujuan mengatur irama jantung, tetapi juga meredakan gejala, melindungi fungsi jantung jangka panjang, dan mencegah stroke.

Pendekatan pengobatan yang efektif melibatkan kombinasi terapi medis dan penyesuaian gaya hidup.

Tujuannya adalah mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penulis :
Gerry Eka