Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Memahami Disleksia, Gangguan Belajar Anak yang Kerap Disalahartikan sebagai Kemalasan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Memahami Disleksia, Gangguan Belajar Anak yang Kerap Disalahartikan sebagai Kemalasan
Foto: (Sumber: Ilusterasi Anak Disleksia (ddn/AI).)

Pantau - Disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang ditandai kesulitan membaca dan mengeja, namun kerap disalahpahami sebagai kemalasan atau rendahnya kecerdasan anak.

Di sebuah sekolah di Bogor, seorang remaja masih duduk di kelas 4 meski usianya seharusnya telah memasuki kelas 7 karena belum mampu membaca dan menulis.

Ia tetap mengikuti pelajaran reguler, tambahan jam belajar, hingga kelas ekstra, tetapi kesulitan muncul setiap kali berhadapan dengan huruf dan teks.

Dalam komunikasi lisan, bercanda, memahami instruksi, dan berinteraksi sosial, ia tampil seperti anak lain pada umumnya.

Kondisi tersebut tidak dikenali sebagai disleksia oleh guru di sekolahnya sehingga anak terus tertinggal tanpa penanganan tepat.

International Dyslexia Association menjelaskan bahwa disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang ditandai kesulitan membaca dan atau mengeja kata.

Disleksia bukan penyakit, melainkan kondisi neurobiologis yang telah ada sejak lahir.

Tim medis RS Siloam menyebut faktor risiko meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, riwayat keluarga dengan disleksia, paparan nikotin, alkohol, NAPZA, infeksi saat kehamilan, serta cedera atau kelainan struktur otak pengolah bahasa.

Disleksia menyebabkan kesulitan mengenali huruf, menghubungkan huruf dan bunyi, membaca, mengeja, dan menulis, namun tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan.

Sejarah mencatat tokoh seperti Albert Einstein, Leonardo da Vinci, dan Steve Jobs diketahui memiliki disleksia, demikian pula figur publik seperti Whoopi Goldberg, Tom Cruise, Deddy Corbuzier, dan Tamara Bleszynski.

Anak dengan disleksia yang tidak dipahami sering dicap bodoh atau malas sehingga memicu luka psikologis.

Dampaknya dapat berupa rendah diri, kecemasan, depresi, penolakan terhadap sekolah, hingga putus sekolah.

Tanda awal disleksia dapat terlihat sejak usia prasekolah ketika anak sulit mengingat nama huruf atau tertukar antara b dan d, p dan q, serta m dan n.

Anak juga kerap kesulitan membedakan bunyi mirip, menghafal lirik lagu, atau menyebut urutan angka dan huruf.

Saat belajar membaca, anak membaca lambat, terbata-bata, salah mengucapkan kata, atau mengeja tidak konsisten, sementara dalam diskusi lisan performanya sering lebih baik.

Disleksia tidak tampak dari fisik atau perilaku sosial sehingga sering disalahartikan sebagai kurang usaha.

Pendekatan terhadap disleksia adalah mengelola, bukan menyembuhkan, sehingga identifikasi dini menjadi kunci intervensi efektif.

Orang tua dan guru perlu berkonsultasi dengan psikolog atau ahli pendidikan khusus jika tanda muncul secara konsisten.

Penguatan psikologis dan dukungan emosional dari keluarga serta lingkungan menjadi fondasi penting agar anak tetap percaya diri.

Metode fonik multisensori seperti Orton Gillingham terbukti membantu melalui pendekatan melihat huruf, mendengar bunyi, mengucapkan, dan menelusuri bentuk huruf secara bertahap.

Teknologi seperti text to speech, speech to text, buku audio, dan kecerdasan buatan dapat membantu anak mengakses informasi lebih luas.

Sekolah perlu memiliki mekanisme skrining dan rujukan yang jelas serta membekali guru dengan pengetahuan disleksia dalam pelatihan formal.

Pemerintah juga didorong memasukkan materi disleksia dalam kurikulum pelatihan guru dan menyediakan modul nasional serta akomodasi resmi dalam evaluasi akademik.

Memberikan pendidikan yang tidak sesuai kebutuhan hingga anak tertinggal bertahun-tahun dinilai sebagai kegagalan memahami hak dasar anak.

Disleksia bukan tragedi, melainkan ketidaktahuan yang menjadikannya tragedi, sementara masa depan anak tidak boleh ditentukan oleh kurangnya pemahaman hari ini.

Penulis :
Gerry Eka