Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Kemenbud–Kemenpar Perkuat Sinergi Kembangkan Destinasi Wisata Berbasis Budaya

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenbud–Kemenpar Perkuat Sinergi Kembangkan Destinasi Wisata Berbasis Budaya
Foto: (Sumber : Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menggelar pertemuan strategis dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, dalam rangka memperkuat sinergi pengembangan destinasi wisata berbasis budaya. ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan.)

Pantau - Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan destinasi wisata berbasis budaya guna mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya penyelarasan program kedua kementerian agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan peningkatan kunjungan wisatawan.

“Budaya dan pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat. Kolaborasi ini menjadi kunci agar potensi budaya kita benar-benar memberi dampak pada peningkatan kunjungan wisatawan,” ujar Fadli.

Dalam pertemuan bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dibahas integrasi data Cagar Budaya Nasional dan Warisan Budaya Takbenda (WBTb), penguatan ekosistem event budaya, penyusunan pola perjalanan wisata (travel pattern), optimalisasi promosi digital, serta kolaborasi diplomasi budaya di tingkat internasional.

Pertemuan tersebut menjadi langkah konkret membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya dari hulu ke hilir, mulai dari pelindungan dan penguatan aset budaya, peningkatan kualitas event, integrasi data, hingga promosi global.

Saat ini Kementerian Kebudayaan mengelola 313 Cagar Budaya Nasional dan 2.727 Warisan Budaya Takbenda, dengan tambahan 514 WBTb baru pada 2025. Potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya dimaksimalkan sebagai kekuatan destinasi wisata budaya, sejarah, religi, maupun kuliner sehingga membutuhkan pengemasan dan narasi yang kuat.

Sejumlah kawasan seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Kompleks Ratu Boko, dan Candi Plaosan telah berada dalam skema kerja sama pengelolaan dengan InJourney. Pemerintah juga memperkuat pengembangan kawasan Percandian Dieng dan Percandian Muara Jambi, termasuk pembangunan Candi Kedaton dan Koto Mahligai serta peresmian Museum Sriwijaya Dharmakirti pada tahun depan.

Kapasitas kunjungan Candi Borobudur saat ini sekitar 4.000 orang per hari untuk naik ke struktur utama dan dinilai masih dapat dioptimalkan.

“Pemasangan chattra diharapkan menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang memiliki makna spiritual sekaligus daya tarik global. Kami berharap ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Fadli.

Destinasi sejarah dan arkeologi seperti Banda Neira dengan narasi Jalur Rempah, benteng-benteng kolonial di Maluku, kawasan Leang-Leang di Sulawesi Selatan, serta Leang Metanduno di Muna berusia sekitar 67.800 tahun dinilai potensial dikembangkan dalam pola perjalanan wisata terpadu.

Di bidang perfilman dan seni rupa, Kementerian Kebudayaan mendukung partisipasi sineas Indonesia di festival film internasional serta menjadi tuan rumah Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Tahun ini Indonesia juga akan berpartisipasi dalam Venice Biennale dengan mengirimkan 14 seniman perupa sebagai bagian dari diplomasi budaya dan promosi pariwisata.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan fokus pada penguatan promosi dan infrastruktur destinasi melalui platform digital indonesia.travel.id yang dilengkapi fitur analisis tren berbasis kecerdasan buatan.

“Kami membutuhkan dukungan data dan storytelling dari Kementerian Kebudayaan agar museum dan cagar budaya dapat tampil lebih kuat di platform digital kami. Generasi muda mencari informasi secara online, dan ini harus kita manfaatkan secara maksimal,” ujarnya.

Target peningkatan kunjungan sebesar 14 persen dengan sasaran 17 juta wisatawan mancanegara dinilai memerlukan penguatan promosi berbasis pengalaman (experience-based tourism). Program Kharisma Event Nusantara yang tahun ini mencapai 145 event juga diharapkan menjadi ruang integrasi event budaya agar berdampak ekonomi lebih luas.

Sinergi kedua kementerian diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat peradaban dan kebudayaan dunia.

Penulis :
Aditya Yohan