Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Lonjakan Belanja Ramadhan Picu Peningkatan Volume Paket Logistik hingga 30 Persen

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Lonjakan Belanja Ramadhan Picu Peningkatan Volume Paket Logistik hingga 30 Persen
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Kurir ngangkut paket ke motor di gudang ID Express Tanjung Priok, Jakarta. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/agr/am.)

Pantau - Momen Ramadhan dan Idulfitri setiap tahun mendorong lonjakan aktivitas belanja masyarakat yang berdampak langsung pada peningkatan volume paket di sektor logistik.

Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya pembelian berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari bahan pokok hingga pakaian melalui platform e-commerce.

Kemudahan berbelanja secara daring serta berbagai program promosi yang ditawarkan platform digital turut meningkatkan intensitas transaksi masyarakat.

Peningkatan aktivitas belanja tersebut membuat perusahaan logistik harus memproses jumlah paket yang jauh lebih besar dibandingkan hari biasa.

Kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan penumpukan paket di fasilitas distribusi sehingga proses pengiriman dapat memerlukan waktu lebih lama.

Salah satu warganet menggambarkan situasi tersebut melalui komentarnya di media sosial.

Ia menuliskan, "Kadang kalau lihat video paket numpuk sedikit langsung dibilang mandek, wkwk. Padahal lagi musim ramai mau Ramadan, orang yang checkout online banyak banget. Jadi kalau kelihatan paket banyak, ya wajar aja sih".

Volume Distribusi Logistik Naik Signifikan

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus pengamat logistik Djoko Setijowarno menjelaskan bahwa peningkatan volume paket merupakan hal yang wajar pada momen Ramadhan dan Idulfitri.

Ia mengatakan, "Sudah pasti yang namanya peningkatan volume paket akan hadir, mutlak hukumnya apalagi di momen-momen besar seperti bulan Ramadan dan juga Idulfitri, toh perusahaan ekspedisi pengiriman juga pasti memproses semua paketnya".

Menurutnya Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki potensi lonjakan transaksi yang sangat besar selama Ramadhan.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Mahendra Rianto menyatakan peningkatan aktivitas distribusi tersebut terjadi hampir di seluruh rantai pasok logistik.

Ia mengatakan, "Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 30 persen".

Data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia juga menunjukkan transaksi belanja daring pada 2025 meningkat sekitar 15 hingga 20 persen selama bulan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya.

Ekspektasi Pengiriman Cepat Jadi Tantangan Logistik

Studi dari firma konsultansi global McKinsey & Company menyoroti fenomena ekspektasi pelanggan terhadap kecepatan pengiriman yang dikenal sebagai Amazon Effect.

Fenomena tersebut menunjukkan sekitar 50 persen konsumen cenderung membatalkan transaksi atau mencari alternatif lain jika pengiriman dianggap terlalu lama.

Djoko mengatakan, "Amazon Effect ini juga relevan dalam lanskap logistik di Indonesia. Dengan maraknya layanan pengiriman instan, menjadikan pembeli terbiasa dengan pengiriman yang datang secara cepat. Hal ini justru menjadi pisau bermata dua bagi perusahaan ekspedisi yang kerap menjadi kambing hitam apabila terdapat sedikit saja keterlambatan dalam pengiriman".

Ia menjelaskan banyak konsumen tidak mengetahui proses panjang yang terjadi di balik pengiriman paket.

Djoko mengatakan, "Karena pembeli sudah dimanjakan dengan fitur instan, mereka kerap kali tidak ingin tahu dan terkadang tidak peduli terhadap apa yang terjadi di balik layar. Padahal kalau kita telaah prosesnya sangat panjang dan rumit, paket harus diambil dulu lewat first mile, lalu masuk ke fasilitas distribusi untuk disortir, lalu dikirim lagi ke last mile untuk selanjutnya".

Teknologi Logistik Diterapkan untuk Mengatasi Lonjakan Paket

Dalam sistem logistik modern pengiriman barang biasanya dilakukan melalui proses konsolidasi muatan serta distribusi bertahap melalui jaringan hub logistik.

Mahendra mengatakan, "Order yang masuk biasanya dikumpulkan dulu sampai menjadi satu muatan penuh truk, kemudian dikirim dari hub ke hub besar seperti di Semarang, Bandung, atau Surabaya sebelum didistribusikan ke wilayah tujuan".

Sistem tersebut membantu perusahaan logistik mengoptimalkan kapasitas kendaraan serta menekan biaya operasional.

Namun ketika volume paket meningkat drastis seperti saat Ramadhan sistem tersebut juga menghadapi tekanan karena kapasitas hub dan armada harus bekerja lebih intensif.

Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau juga menjadi tantangan besar bagi distribusi logistik.

Djoko mengatakan, "Konektivitas antarprovinsi dan antarpulau masih menjadi tantangan nyata. Keterbatasan infrastruktur transportasi darat, kapasitas angkutan laut dan udara yang terbatas, serta medan yang beragam di daerah terpencil adalah hambatan yang tidak bisa diabaikan dan kerap kali mempersulit proses distribusi paket".

Untuk mengatasi tantangan tersebut perusahaan ekspedisi terus melakukan berbagai pembenahan termasuk penerapan teknologi logistik.

Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi otomatisasi seperti conveyor otomatis, pemindai otomatis, serta sistem pengiriman berbasis data untuk menentukan rute pengantaran paling efisien.

Teknologi tersebut juga membantu meningkatkan kapasitas fasilitas logistik agar lebih adaptif menghadapi lonjakan volume paket pada hari-hari besar.

Djoko mengatakan, "Transformasi digital di sektor logistik, mulai dari otomatisasi proses, pemanfaatan analisis data, hingga sistem pemantauan pengiriman secara langsung, tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi layanan tapi juga meminimalisir hambatan saat terjadi lonjakan volume paket di periode Ramadan saat ini. Teknologi tersebut juga memperkuat kemampuan penyedia layanan logistik untuk mengantisipasi serta merespons berbagai perubahan maupun gangguan dengan lebih cepat".

Penulis :
Aditya Yohan