
Pantau - Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi potensi krisis energi akibat keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi global.
Menurut Amelia, gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada stabilitas harga energi dan rantai pasokan internasional, termasuk ke Indonesia.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus menunjukkan kesiapan dan ketanggapan terhadap dinamika kawasan Timur Tengah.
Amelia mendorong keterlibatan aktif Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam merespons situasi tersebut.
Langkah antisipatif yang perlu dilakukan antara lain pengamanan jalur alternatif distribusi energi, peningkatan cadangan strategis nasional, serta kerja sama dengan negara-negara ASEAN dan mitra global lainnya.
Ia menilai keputusan Parlemen Iran untuk menutup Selat Hormuz merupakan perkembangan geopolitik serius yang tak boleh diabaikan.
Menurutnya, stabilitas nasional dan ketahanan energi Indonesia tidak boleh terganggu oleh konflik regional yang kompleks.
Amelia juga mendorong agar isu ini dibawa ke forum-forum internasional untuk mendorong penyelesaian damai dan menjaga keterbukaan jalur pelayaran internasional.
Dampak Langsung terhadap Energi dan Ekonomi Nasional
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menjelaskan bahwa sekitar 20-30 persen minyak mentah global melewati Selat Hormuz setiap hari.
Ia mencatat bahwa harga minyak mentah Brent sudah naik dari 65 dolar AS per barel pada awal Juni menjadi 73 dolar AS pada pertengahan Juni 2025.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak mentah global diprediksi bisa menembus angka 90 dolar AS per barel.
Sebagai negara pengimpor minyak dari Timur Tengah, Indonesia akan terdampak secara signifikan, termasuk potensi pembengkakan subsidi BBM dalam APBN.
Kenaikan harga BBM domestik dan inflasi akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat juga diperkirakan terjadi.
TB Hasanuddin juga memperingatkan tentang potensi gangguan pasokan LPG dari Qatar dan Uni Emirat Arab yang melalui jalur Selat Hormuz.
Ia menambahkan bahwa biaya logistik akan meningkat jika Indonesia terpaksa menggunakan jalur alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








