
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 6.657 kejadian gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode 1 Januari hingga 21 Desember 2025.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 51 kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat.
Mayoritas Gempa Berkekuatan Kecil dan Berpusat Dangkal
BMKG mengungkapkan bahwa dari total kejadian, 5.764 gempa memiliki magnitudo di bawah 3 dan 5.414 gempa berpusat di kedalaman kurang dari 60 kilometer.
Gempa dengan intensitas tertinggi terjadi pada Januari 2025 dengan 792 kejadian, disusul Maret sebanyak 724 dan April sebanyak 712.
Tingginya aktivitas seismik ini disebabkan oleh posisi NTB yang berada di zona pertemuan dua sistem tektonik besar, yakni subduksi lempeng Indo-Australia di selatan dan sistem sesar naik Flores di utara.
"Wilayah NTB merupakan salah satu daerah dengan aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia karena berada di antara subduksi dan sesar aktif baik di darat maupun di laut," ungkap BMKG dalam pernyataan tertulis.
Flores Back Arc Thrust atau sesar naik di Laut Flores juga menjadi salah satu pemicu utama gempa, selain aktivitas sesar lokal yang sebelumnya menjadi sumber gempa besar pada 2018 di Lombok.
BMKG Imbau Warga Tetap Waspada dan Kenali Cara Berlindung
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang saat terjadi gempa dan melindungi diri di tempat yang aman.
Jika berada di dalam bangunan, masyarakat diminta berlindung di bawah meja dan menjauhi benda berat serta jendela kaca.
Apabila berada di gedung bertingkat, disarankan menggunakan tangga darurat dan menghindari lift maupun eskalator.
Sementara jika berada di luar ruangan, masyarakat diimbau menjauh dari tiang listrik, pohon, dan bangunan tinggi.
BMKG menegaskan bahwa edukasi kesiapsiagaan tetap menjadi kunci dalam mengurangi risiko akibat gempa di wilayah rawan seperti NTB.
- Penulis :
- Gerry Eka








