
Pantau - Pemerintah Kota Semarang menyiagakan 220 unit pompa air untuk mengantisipasi banjir saat puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada awal 2026, dengan sebaran di seluruh titik rawan banjir.
Dari jumlah tersebut, 119 merupakan pompa tetap dan 101 pompa portabel yang siap dikerahkan secara fleksibel sesuai kebutuhan di lapangan.
Penambahan pompa baru dilakukan di wilayah rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan.
Pembenahan Infrastruktur dan Kolaborasi Lintas Instansi
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan hasil evaluasi dari kejadian banjir pada akhir 2024 hingga awal 2025.
"Kami tidak hanya menyiapkan alat, tetapi telah membenahi akar masalahnya," ungkapnya.
Di kawasan Kaligawe, outlet air dilebarkan dari 10 meter menjadi 40 meter untuk mempercepat aliran dan mencegah genangan parah.
Sistem polder diperbarui dengan pengerukan dan pendalaman puluhan umpung-umpung atau waduk mini, termasuk di daerah Jatingaleh, Kecamatan Mijen.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga memperkuat armada pompa, terutama di wilayah yang rawan tergenang air saat hujan deras.
Pembersihan dan normalisasi saluran air dilakukan secara intensif di kawasan utama seperti Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Pandanaran, dan sepanjang Banjir Kanal Timur.
Wali Kota Agustina menegaskan bahwa keberhasilan penanganan banjir bukan semata hasil kerja Pemkot, tetapi kolaborasi berbagai instansi.
Koordinasi terus dilakukan bersama BBWS, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN), Kodim, serta pihak-pihak terkait untuk memastikan respons cepat dan terintegrasi saat bencana terjadi.
Selain itu, masyarakat diajak berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar upaya teknis pemerintah tidak sia-sia.
"Kesiapan teknis pemerintah harus diimbangi dengan kesadaran kolektif warga untuk tidak membuang sampah ke saluran air dan menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti








