
Pantau - Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo menilai Bank Jakarta wajib membenahi sejumlah permasalahan mendasar sebelum melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering.
Foto pemberitaan menampilkan Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo.
Francine menilai IPO mensyaratkan kesiapan fundamental yang kuat, terutama pada aspek sistem, manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan.
Ia mengecam rencana IPO Bank Jakarta pada awal 2027 karena ketahanan dan keamanan siber bank tersebut masih diragukan.
Keraguan tersebut muncul setelah terjadinya gangguan layanan Bank Jakarta pada masa Lebaran 2025.
Sejak malam takbiran Idul Fitri pada 30 Maret 2025, nasabah Bank Jakarta yang sebelumnya bernama Bank DKI tidak dapat melakukan transaksi perbankan.
Gangguan tersebut meliputi layanan aplikasi digital Jakone, QRIS, serta penarikan tunai melalui ATM.
Layanan ATM Bank Jakarta baru diketahui pulih pada 7 April 2025.
Kondisi itu terjadi di tengah periode mudik Lebaran yang biasanya diwarnai dengan tingginya transaksi keuangan masyarakat.
Pada saat itu, Fraksi PSI menerima banyak aduan dari masyarakat terkait gangguan layanan tersebut.
Aduan itu mencerminkan kebingungan dan kekecewaan mendalam nasabah terhadap layanan Bank Jakarta.
Banyak pemudik dilaporkan tidak membawa uang tunai dalam jumlah besar karena mempercayai akses dana mereka di rekening Bank Jakarta.
Bank Jakarta baru mengeluarkan keterangan resmi terkait gangguan layanan pada 8 April 2025 dengan alasan adanya gangguan layanan.
Francine mempertanyakan lamanya proses pemulihan apabila gangguan tersebut hanya disebabkan masalah layanan biasa.
Selain itu, layanan BI Fast Bank Jakarta juga tidak dapat digunakan sejak 30 Maret 2025.
Layanan BI Fast tersebut baru kembali pulih pada 10 Desember 2025.
Lamanya pemulihan selama lebih dari delapan bulan dinilai menunjukkan seriusnya permasalahan yang dihadapi Bank Jakarta.
Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, peretasan terhadap Bank Jakarta melalui sistem pembayaran BI Fast tercatat terjadi beberapa kali sejak 2024 hingga 2025.
Pada Maret 2025 tercatat terjadi transaksi anomali dengan nilai sekitar Rp200 miliar.
Hingga kini, transfer online dari bank lain ke Bank Jakarta dilaporkan masih sering gagal apabila kolom pesan diisi.
Menurut penjelasan Bank Jakarta, kolom pesan harus dikosongkan agar transaksi dapat berhasil.
Francine menilai kolom pesan penting untuk menghindari kebingungan antara pengirim dan penerima dengan menjelaskan jenis transaksi.
Francine meminta manajemen Bank Jakarta membenahi berbagai permasalahan berat sebelum melaksanakan IPO.
Ia menekankan pentingnya penguatan keamanan teknologi informasi, terutama menjelang kerja sama Bank Jakarta dengan Visa yang baru diluncurkan.
Francine menegaskan bahwa keamanan dana dan kepercayaan nasabah merupakan hal yang sangat penting dalam industri perbankan.
Selain mengelola dana masyarakat, Bank Jakarta juga mengelola Saldo Anggaran Lebih dari Kementerian Keuangan.
Bank Jakarta dinilai perlu memperbaiki tata kelola untuk mendapatkan kembali kepercayaan nasabah.
Ketahanan dan keamanan siber disebut menjadi faktor krusial agar nasabah tidak merasa was-was menyimpan dana di Bank Jakarta.
- Penulis :
- Aditya Yohan







