Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Anak Terpapar Ideologi Kekerasan, Dindik Jatim Perkuat Literasi Digital dan Peran Guru di Sekolah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Anak Terpapar Ideologi Kekerasan, Dindik Jatim Perkuat Literasi Digital dan Peran Guru di Sekolah
Foto: Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai (sumber: ANTARA/Willi Irawan)

Pantau - Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) menyiapkan langkah antisipatif untuk mencegah meluasnya paparan ideologi kekerasan ekstrem pada anak, menyusul temuan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terkait keterlibatan anak-anak dalam konten digital berbahaya.

Temuan Densus 88 dan Respons Dindik Jatim

Densus 88 Antiteror Polri sebelumnya mengungkap adanya 70 anak di berbagai daerah yang teridentifikasi terpapar ideologi kekerasan melalui konten True Crime Community yang disamarkan dalam format digital.

Rinciannya mencakup 15 anak di DKI Jakarta, 12 anak di Jawa Barat, dan 11 anak di Jawa Timur, dengan rentang usia antara 11 hingga 18 tahun.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan perlunya langkah konkret untuk membentengi siswa dari pengaruh buruk dunia digital.

"Anak-anak kita hari ini hidup dalam ruang digital yang bergerak sangat cepat. Tanpa pendampingan, pengawasan, dan literasi yang tepat, mereka rentan terpapar konten berbahaya yang tidak selalu tampak secara kasat mata," ungkapnya.

Langkah awal yang akan diambil Dindik Jatim adalah melakukan koordinasi masif dengan seluruh kepala SMA dan SMK guna memperkuat sistem pencegahan sejak dini di lingkungan sekolah.

Literasi Digital dan Peran Guru dalam Pencegahan

Upaya pencegahan difokuskan pada penguatan literasi digital reflektif di sekolah-sekolah agar siswa tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan menyadari dampak dari konten yang mereka konsumsi.

"Literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan karakter dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, bukan sekadar pelajaran tambahan," ia menegaskan.

Selain itu, Dindik Jatim juga mendorong penguatan peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan wali kelas.

Mereka diberi tugas untuk melakukan deteksi dini dengan memantau perilaku siswa, membuka ruang dialog terkait aktivitas digital, serta memberikan pendampingan psikososial bagi siswa yang menunjukkan perubahan perilaku.

Langkah-langkah pengawasan berjenjang akan diperketat melalui regulasi penggunaan gawai, pengawasan terhadap kegiatan ekstrakurikuler dan komunitas daring siswa, serta penyusunan mekanisme pelaporan terhadap indikasi paparan konten ekstrem.

Kolaborasi dengan orang tua juga dianggap krusial.

"Sekolah dan orang tua harus berjalan seiring. Pendidikan digital tidak bisa berhasil tanpa komunikasi yang kuat antara guru dan keluarga," ujarnya.

Dindik Jatim menyatakan siap bersinergi dengan kementerian terkait, aparat keamanan, dan lembaga perlindungan anak untuk memperkuat pencegahan sejak hulu, tidak hanya mengandalkan penindakan.

"Pendidikan harus melahirkan anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nalar reflektif, empati, dan karakter kuat. Pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang mampu melindungi masa depan generasi bangsa," tutup Aries.

Dindik Jatim menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang aman, inklusif, dan bermakna guna mewujudkan Jatim Cerdas serta menciptakan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing.

Penulis :
Arian Mesa