
Pantau - Sebuah video berdurasi 46 detik yang memperlihatkan suasana rapat berlatar tulisan DPRD Jawa Barat viral di media sosial, khususnya Facebook, dengan narasi seorang perempuan marah karena warga miskin harus menjalani vasektomi sebagai syarat menerima bantuan sosial (bansos).
Video tersebut menyebar luas disertai narasi yang menyebut bahwa kebijakan vasektomi merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan bentuk penghinaan terhadap orang miskin.
Dalam narasi unggahan, disebutkan: "Seorang gubernur ngomong kayak gini. Orang miskin udah kesulitan eh disuruh vasektomi dulu baru boleh terima bansos, apa logikamu rusak total pak? Hak asasi manusia itu bukan pajangan pak hak untuk punya anak itu hak dasar, bukan barang yang bisa ditukar dengan uang segelintir rupiah. Dua atau tiga juta sebulan buat hidup keluarga itu jelas tidak sebanding dengan tindakan memandulkan orang miskin. Ini bukan solusi, ini penghinaan."
Video Terbukti Buatan AI
Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan rekaman resmi rapat DPRD Jawa Barat yang sesuai dengan isi video tersebut.
Pemeriksaan menggunakan AI Detector dari Hive Moderation menunjukkan bahwa video itu 99,9 persen merupakan hasil rekayasa buatan kecerdasan buatan (AI).
Artinya, video tersebut tidak diambil dari kejadian nyata dan tidak mencerminkan peristiwa resmi di lingkungan DPRD Jawa Barat.
Klarifikasi Gubernur Soal Program Keluarga Berencana
Isu vasektomi sempat mencuat setelah pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Senin, 28 April lalu, yang membahas rencana menjadikan program keluarga berencana (KB) sebagai syarat bantuan, termasuk beasiswa dan bansos.
Namun, Dedi Mulyadi telah menegaskan bahwa vasektomi bukan merupakan syarat dalam kebijakan bantuan sosial.
"Tidak ada kebijakan vasektomi. Tidak ada. Tidak ada kebijakan itu," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa program KB yang dimaksud bersifat anjuran, terutama bagi calon penerima bantuan yang sudah memiliki banyak anak.
Kesimpulan
Klaim bahwa ada perempuan memprotes kebijakan vasektomi dalam rapat DPRD Jawa Barat terbukti hoaks.
Video yang beredar merupakan buatan AI dan tidak didasarkan pada kejadian nyata.
- Penulis :
- Aditya Yohan








