
Pantau - Banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin dini hari, 5 Januari 2026, memaksa ratusan keluarga mengungsi ke gereja dan museum setempat setelah pemukiman mereka rusak parah.
Pengungsian Darurat dan Bantuan Logistik
Sejumlah lokasi dijadikan tempat pengungsian sementara, antara lain museum di Kecamatan Siau Timur, Gereja Advent, Gereja GMIST Bethel Pesing, dan Gedung Gereja GMIST Jemaat Bethabara Paseng.
Pengungsi berasal dari Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan, dengan wilayah terdampak mencakup empat kelurahan dan enam desa.
Warga tetap berada di lokasi pengungsian sambil menunggu proses pemulihan lingkungan pascabencana yang dilakukan tim petugas gabungan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan memberikan pendampingan langsung untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal.
Pendampingan juga mencakup rencana relokasi dan pemulihan pascabencana.
Pelaksana tugas Deputi Bidang Pencegahan BNPB bersama Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK meninjau langsung lokasi terdampak dan menyerahkan bantuan logistik darurat kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Bantuan logistik mencakup kebutuhan pokok, selimut, matras, tenda keluarga, serta peralatan kebersihan, disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan dasar pengungsi.
Dampak Banjir dan Status Tanggap Darurat
Banjir bandang terjadi akibat hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama, yang menyebabkan sungai meluap dan membawa lumpur, batu, serta kayu ke kawasan pemukiman dan fasilitas umum.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, berlaku sejak 5 Januari hingga 18 Januari 2026, berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 1 Tahun 2026.
Hingga Kamis, 8 Januari pukul 16.00 WIB, tercatat lebih dari 600 keluarga masih mengungsi.
Bencana ini telah menelan korban 17 orang meninggal dunia, dua orang dinyatakan hilang, dan 26 orang mengalami luka-luka yang telah mendapat perawatan medis.
Peristiwa ini menunjukkan pemanfaatan fasilitas keagamaan dan budaya sebagai tempat pengungsian darurat bagi warga terdampak bencana.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








