
Pantau - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memanfaatkan momentum peringatan Isra Miraj untuk menegaskan kembali komitmen Pemerintah Republik Indonesia terhadap perjuangan dan perdamaian Palestina.
Pesan tersebut disampaikan Dahnil Anzar Simanjuntak saat refleksi Isra Miraj di tengah pelatihan fisik calon petugas haji tahun 2026.
Lebih dari 1.600 calon petugas haji 2026 diajak berhenti sejenak untuk memaknai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW yang dinilai relevan dengan tugas pelayanan haji dan situasi geopolitik global.
Isra sebagai Pesan Solidaritas Palestina
Dalam amanatnya di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Kamis malam, Wamenhaj mengajak peserta memaknai Isra Miraj tidak hanya sebagai ritual tahunan.
Ia menjelaskan bahwa Isra Miraj mengandung dua dimensi kehidupan, yakni dimensi vertikal dan dimensi horizontal.
Dimensi horizontal Isra, yang menggambarkan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dinilai memiliki pesan solidaritas mendalam terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Ada simbolisasi horizontal, ada simbolisasi perubahan. Di satu sisi ada pemaknaan dalam Isra itu Masjidil Aqsa. Ada perjuangan saudara-saudara kita di Palestina,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat apel malam diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji PPIH 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.
Di hadapan calon petugas haji, Wamenhaj menegaskan kembali posisi Pemerintah Indonesia yang konsisten mendukung perdamaian dan kemerdekaan Palestina.
“Ini menjadi komitmen yang luar biasa dari Pemerintah Republik Indonesia untuk berperan aktif terhadap perdamaian di Palestina,” ujarnya.
Dimensi Spiritual Petugas Haji
Selain pesan solidaritas global, Wamenhaj menekankan dimensi vertikal Miraj sebagai perintah shalat dan peningkatan kualitas iman.
Ia mengingatkan para petugas haji untuk membereskan hubungan vertikal dengan Tuhan sebelum menjalankan tugas melayani jamaah.
Shalat disebut sebagai manifestasi keberimanan yang menjadi sumber kekuatan spiritual bagi petugas haji.
Kekuatan spiritual tersebut dinilai penting sebagai bekal saat menghadapi kelelahan dalam melayani jamaah lanjut usia dan jamaah berisiko tinggi.
“Malam ini kita berkumpul bukan sekadar apel malam penutup hari, tapi momentum merefleksikan diri. Para petugas haji harus mulai merefleksikan dirinya, untuk apa kita berkumpul di sini,” katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







