
Pantau - Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ekspor beras haji Indonesia ke Arab Saudi menjadi implikasi positif dari keberhasilan swasembada beras nasional yang dicapai pada akhir tahun 2025.
Ekspor tersebut juga dinilai menunjukkan peningkatan produksi beras nasional serta meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk beras Indonesia.
Amran mengatakan "Ini aksi nyata, bukan ilusi. Kita ekspor dua ribuan ton 2.280 ton, jadi bukan impor 1.000 ton. Nah ini 2.280 ton diekspor", ungkapnya.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional memberikan penugasan kepada Perum Bulog untuk memenuhi kebutuhan beras bagi jamaah dan petugas haji Indonesia pada tahun 2026.
Dalam surat bernomor 213/TS.03.03/K/02/2026 tertanggal 27 Februari, Bulog ditugaskan mengekspor beras dari Cadangan Beras Pemerintah sebanyak 2.280 ton.
Beras yang dikirim merupakan beras premium dengan tingkat pecahan lima persen yang berasal dari Cadangan Beras Pemerintah.
Stok Cadangan Beras Pemerintah saat ini mencapai sekitar 3,7 juta ton sehingga kebutuhan konsumsi dalam negeri dipastikan tetap tercukupi.
Amran mengatakan "Ini adalah ekspor perdana ke Saudi Arabia. Ini adalah momentum yang baik dan terbesar sepanjang sejarah di bulan Maret", ujarnya.
Beras Haji Nusantara untuk Jamaah Indonesia
Logistik beras tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan sekitar 205.420 jamaah dan petugas haji Indonesia pada tahun 2026.
Dengan asumsi konsumsi 170 gram nasi per orang setiap hari, kebutuhan beras untuk layanan konsumsi jamaah diperkirakan mencapai 2.280 ton.
Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, jamaah haji akan mendapatkan jatah makan sebanyak 78 kali di Makkah, 27 kali di Madinah, serta enam kali di wilayah Armuzna yang terdiri dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Setiap porsi makanan direncanakan berisi nasi seberat 170 gram yang dilengkapi lauk seberat 80 gram, sayur 75 gram, serta air mineral dan pelengkap lainnya.
Program Beras Haji Nusantara juga bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus melakukan standardisasi menu bagi jamaah haji Indonesia.
Pada tahun-tahun sebelumnya dapur penyedia layanan makanan di Arab Saudi umumnya menggunakan beras dari negara lain.
Harga pasar beras tersebut sekitar 150 Riyal Saudi untuk setiap 40 kilogram atau setara sekitar Rp16.824 per kilogram.
Melalui program Beras Haji Nusantara pemerintah dapat memasok beras dengan harga yang lebih ekonomis dibandingkan harga pasar tersebut.
Ekspor Beras Akan Diperluas ke Negara Lain
Pemerintah juga berencana memperluas ekspor beras ke beberapa negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Negara yang sedang dijajaki sebagai tujuan ekspor antara lain Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina.
Amran mengatakan "Kita sudah menjajaki beberapa negara Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina. Mudah-mudahan ke depan bisa kita ekspor lebih besar lagi. Tetapi khusus untuk jamaah kita, Saudi Arabia itu perkiraan antara 20 ribu sampai 50 ribu ton. Kemudian nanti ke negara lainnya lagi", katanya.
Beras yang diekspor ke Arab Saudi berasal dari hasil penyerapan produksi dalam negeri yang dikelola oleh Perum Bulog.
Seluruh beras tersebut juga berasal dari hasil penggilingan gabah segar dari produksi dalam negeri pada awal tahun 2026.
Pelepasan ekspor beras dilakukan di Gudang Bulog Kelapa Gading Jakarta pada Rabu 4 Maret.
Setelah itu beras dikumpulkan terlebih dahulu di Pelabuhan Tanjung Priok sebelum dikirim menuju Arab Saudi.
Pengapalan beras direncanakan dilakukan pada Sabtu 7 Maret dan akan berlangsung secara bertahap hingga target pengiriman tercapai.
- Penulis :
- Aditya Yohan







