
Pantau - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM), Mugiyanto, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan bermartabat.
Kunjungan Wamen HAM ke SRT 45 Semarang
Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat, Mugiyanto melakukan monitoring dan berinteraksi langsung dengan para pelajar.
Ia menanyakan kenyamanan, rasa aman, serta kondisi belajar siswa di lingkungan sekolah tersebut.
"Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, tetapi wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin hak anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa rasa takut. Anak-anak di sini harus merasa aman, sehat, dan dihargai martabatnya," ungkapnya.
Wamen HAM turut didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, Mustafa Beleng, beserta jajaran.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga meninjau kondisi kamar asrama dan ruang kelas yang digunakan para siswa.
Menurut Mugiyanto, monitoring ini dilakukan untuk memastikan bahwa prinsip penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan HAM benar-benar diterapkan dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Secara umum, hasil monitoring menunjukkan bahwa pemenuhan hak-hak dasar siswa di SRT 45 sudah berjalan cukup baik.
Pemenuhan ini terutama terlihat dari penyediaan fasilitas asrama dan makanan yang layak bagi siswa.
Sorotan terhadap Hak Kesehatan dan Tantangan Sekolah
Meski demikian, Kementerian HAM menyoroti aspek pemenuhan hak atas kesehatan yang dinilai belum optimal.
Hal ini disebabkan oleh belum lengkapnya sarana dan prasarana kesehatan serta masih adanya siswa yang belum tercakup dalam jaminan BPJS Kesehatan.
Mugiyanto menyatakan bahwa hak atas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari hak atas kesehatan.
Ia menyampaikan, "Negara wajib memastikan setiap anak di Sekolah Rakyat tidak hanya bisa belajar, tetapi juga terlindungi kesehatannya. Ini akan menjadi catatan penting untuk segera ditindaklanjuti bersama kementerian dan pemerintah daerah terkait," tegasnya.
Sementara itu, Kepala SRT 45 Kota Semarang, Ridho Irwanto, menyampaikan bahwa sekolah tersebut mulai beroperasi sejak 30 September 2025.
Saat ini, sekolah menampung total 100 siswa, terdiri dari 50 siswa tingkat SD dan 50 siswa tingkat SMA.
Komposisi siswa terdiri dari 60 laki-laki dan 40 perempuan, yang seluruhnya berasal dari keluarga kurang mampu di Kota Semarang, termasuk dalam kategori desil 1 dan desil 2.
Pihak sekolah juga mengungkapkan sejumlah tantangan, di antaranya kesulitan dalam menjaring calon siswa yang bersedia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Selain itu, sekolah mengalami keterbatasan ruang kerja dan asrama bagi para tenaga pendidik.
Untuk sementara, manajemen sekolah memanfaatkan ruang perpustakaan dan laboratorium komputer sebagai ruang kerja.
Sekolah juga memprioritaskan penggunaan asrama bagi guru-guru yang berasal dari luar Kota Semarang.
- Penulis :
- Arian Mesa







