Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pelestari Tosan Aji Harus Berdikari dan Militan, Tegas Hasto Kristiyanto di Rapat Kerja Agung Senapati Nusantara

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pelestari Tosan Aji Harus Berdikari dan Militan, Tegas Hasto Kristiyanto di Rapat Kerja Agung Senapati Nusantara
Foto: (Sumber: Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara) Hasto Kristiyanto membuka secara resmi Rapat Kerja Agung dengan tema Memperkuat Sinergi Melestarikan Tradisi yang berlangsung di Pendapa Kridha Manunggal Budaya, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi/aa.)

Pantau - Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara), Hasto Kristiyanto, secara resmi membuka Rapat Kerja Agung (RKA) di Pendapa Kridha Manunggal Budaya, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan penekanan bahwa pelestari Tosan Aji harus berdikari dan militan.

Hasto menegaskan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dan spiritualitas dalam pelestarian Tosan Aji, sejalan dengan pesan Bung Karno tentang kemandirian politik, ekonomi, dan budaya.

Acara yang mengusung tema Memperkuat Sinergi Melestarikan Tradisi ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat visi kebudayaan berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai spiritual bangsa.

Nilai Spiritualitas dan Militansi dalam Pelestarian

Hasto menyamakan semangat pelestarian Tosan Aji dengan perjalanan Bima dalam mencari Banyu Perwitosari serta perjuangan Pangeran Diponegoro.

"Cerita ini relevan dengan Tosan Aji. Karena jalan ksatria itu adalah jalan penuh gemblengan lahir batin, ilmu kalakone kanthi laku", ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Tosan Aji bukan hanya benda pusaka, melainkan simbol perjalanan spiritual dan filosofi hidup yang menuntut laku dan penggemblengan batin.

"Siapapun yang akan menjadi orang, maka hidupnya juga melalui gemblengan-gemblengan itu agar keluar pamornya", ia mengungkapkan.

Menurutnya, spiritualitas sang empu menjadi penghubung antara karya logam dan jati diri pemiliknya.

Hasto juga mengaitkan Tosan Aji dengan budaya lain seperti gamelan yang disebut diplomat asing sebagai musik paling demokratis, serta Gending Ketawang Puspawarna yang pernah dikirim Bung Karno ke luar angkasa sebagai representasi budaya Indonesia.

Penguatan Organisasi dan Strategi Kebudayaan

Hasto menolak anggapan bahwa pelestarian budaya bertentangan dengan pengembangan.

Ia menegaskan bahwa pelestarian justru mengandung unsur inovasi dan perluasan makna budaya.

Ia menyebut kekuatan Senapati Nusantara terletak pada ideologi yang membentuk nilai-nilai luhur Tosan Aji serta semangat kemandirian para pengrajin dan pelestarinya.

Para pelestari, menurut Hasto, berasal dari rakyat dengan semangat berdikari dan militansi dalam menjaga warisan budaya dan kedaulatan bangsa.

Ia mengaku hanya sebagai fasilitator, sementara kekuatan utama berada di tangan anggota yang bergerak secara mandiri.

Mereka digerakkan oleh semangat dedication of life, sebagaimana ditunjukkan Bung Karno dan para pendiri bangsa.

Hasto mencontohkan sikap heroik Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang secara tegas menyatakan bergabungnya keraton dengan Republik Indonesia.

"Senapati Nusantara harus juga mewarisi semangat darma bakti, dedication of life bagi bangsa dan negara", tegasnya.

Ia menekankan bahwa forum RKA tidak hanya merumuskan strategi organisasi, tapi juga mempererat persaudaraan dan menyusun langkah-langkah strategis kebudayaan.

Ketua Panitia RKA, Nurjianto, menyampaikan bahwa RKA merupakan forum musyawarah agung yang menyatukan gagasan serta menyelaraskan visi pelestarian budaya.

"Semoga forum ini lahir semangat baru dengan hadirnya Bapak Sekjen tercinta kita, Bapak Hasto Kristiyanto", ujarnya.

Nurjianto berharap RKA mampu menghasilkan keputusan yang arif dan program strategis yang menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur.

Ia juga menyampaikan bahwa semangat pelestarian keris dan Tosan Aji saat ini mulai bangkit dan membuka ruang edukasi budaya.

Dukungan Tokoh dan Arah Masa Depan Pelestarian

Acara ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh, antara lain Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, Hilmar Farid dari Megawati Institute, serta GBPH Prabukusumo dan KPH Purbodiningrat dari Keraton Yogyakarta.

Perwakilan Kedutaan Besar Jepang, Tanaka, juga hadir bersama para sesepuh, empu, dan pecinta Tosan Aji dari berbagai daerah di Indonesia.

Hasto sempat meninjau pagelaran dan bursa Tosan Aji yang menampilkan koleksi-koleksi pusaka dari para empu dan pengrajin se-Nusantara.

Dalam arahannya, Hasto mendorong agar Senapati Nusantara terus mengikuti perkembangan zaman dan membuktikan bahwa pelestarian Tosan Aji adalah bagian dari kemajuan peradaban logam leluhur.

Penulis :
Gerry Eka