
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional bekerja sama dengan perusahaan swasta mengembangkan tanaman malapari atau Pongamia pinnata di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya ramah lingkungan.
Pengembangan malapari dilakukan karena tanaman tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber energi hijau masa depan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kondisi iklim ekstrem.
Malapari dipandang mampu menghasilkan bahan bakar berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung upaya penurunan emisi karbon nasional.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Budi Leksono menjelaskan bahwa biji malapari menghasilkan minyak non-pangan yang sangat potensial sebagai "bahan baku biodiesel dan bioavtur", ungkapnya.
Minyak non-pangan dari malapari dinilai strategis karena tidak bersaing dengan kebutuhan pangan dan sejalan dengan kebijakan internasional sektor penerbangan yang mewajibkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
Secara alami rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20 hingga 28 persen.
Melalui seleksi genetik dan optimalisasi metode ekstraksi rendemen minyak malapari dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen.
Riset pemuliaan tanaman yang dilakukan BRIN diarahkan untuk menghasilkan pohon malapari unggul yang cepat berbuah, berproduktivitas tinggi, dan memiliki rendemen minyak optimal.
Malapari memiliki keunggulan ekologis sebagai tanaman legum yang mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar.
Karakter tersebut membuat malapari relatif tidak memerlukan pupuk nitrogen sehingga efisien dikembangkan di lahan marginal.
Malapari sangat adaptif ditanam di wilayah dengan kondisi kering ekstrem termasuk kawasan Indonesia bagian timur seperti Lembata.
Pengembangan malapari di Lembata diintegrasikan dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat.
Melalui sistem agroforestri masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan dan komoditas lain seperti kopi, kakao, serta tanaman semusim di bawah tegakan malapari.
Pengembangan malapari tidak hanya ditujukan untuk produksi bioenergi tetapi juga menjadi bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim.
Penanaman malapari dalam skala luas berpotensi mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional.
Pengembangan ini juga membuka peluang perdagangan karbon yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Pada tahun ini keterlibatan riset BRIN difokuskan pada penyiapan sumber benih malapari yang tersertifikasi.
BRIN juga mengembangkan benih unggul malapari asli Lembata untuk mendukung keberlanjutan program pengembangan.
Ke depan sinergi lintas kementerian pemerintah daerah lembaga riset sektor swasta dan media melalui pendekatan pentaheliks diharapkan dapat mempercepat pengembangan malapari.
Pengembangan malapari ditargetkan menjadi komoditas strategis nasional yang berkelanjutan inklusif dan berbasis potensi lokal.
- Penulis :
- Aditya Yohan








