
Pantau - Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid menegaskan bahwa negara memiliki "utang moral" untuk memberikan pelayanan optimal kepada jamaah haji lanjut usia atau lansia.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan ribuan peserta pendidikan dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Alissa menekankan panjangnya antrean haji Indonesia, sehingga wajar jika banyak jamaah baru dapat berangkat pada usia lanjut.
"Ketika seorang lansia baru mendapatkan giliran berangkat pada usia lanjut, maka kondisi tersebut harus diterima sebagai sebuah realitas. Pemerintahlah yang wajib menyesuaikan pelayanan, bukan justru meminggirkan para lansia," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa substansinya adalah jamaah lansia tetap berangkat, namun seluruh mekanisme pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka.
Alissa menyoroti pentingnya mitigasi risiko sejak awal, terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), karena jamaah lansia sering kesulitan beradaptasi dengan situasi padat.
Mekanisme mitigasi risiko harus dirancang matang-matang, termasuk evakuasi atau pemulangan lebih cepat ke hotel, serta kajian mendalam terhadap kemampuan fisik jamaah.
Ia juga menekankan pendampingan lebih kuat untuk jamaah lansia, termasuk bantuan teknis harian seperti ke kamar mandi atau mengurus diri, agar tidak membebani jamaah lain.
"Negara sudah memutuskan untuk melayani mereka, maka tanggung jawab tersebut harus ditunaikan dengan pelayanan optimal. Petugas haji adalah ujung tombak untuk membayar 'utang' pelayanan tersebut demi menekan risiko kesehatan dan angka kematian jamaah lansia," tegas Alissa.
- Penulis :
- Aditya Yohan







