Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

MBG dan Batas Peran Negara: Antara Kepedulian dan Kemandirian di Meja Makan Warga

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

MBG dan Batas Peran Negara: Antara Kepedulian dan Kemandirian di Meja Makan Warga
Foto: (Sumber: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (14/1/2026). (ANTARA/HO-Sekretariat Wakil Presiden))

Pantau - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai bagian dari visi besar Indonesia Emas untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, namun menimbulkan pertanyaan mendasar tentang sejauh mana negara seharusnya masuk ke dapur warga.

Visi Indonesia Emas menjadikan manusia sebagai pusat pembangunan, bukan sekadar angka dalam statistik.

Dalam semangat tersebut, kebijakan yang menyentuh aspek paling dasar seperti pangan dan gizi perlu dicermati secara kritis.

Program MBG hadir dengan niat baik untuk memastikan generasi tidak tertinggal sejak dari meja makan, memberikan kesan bahwa negara hadir dan peduli di tengah kehidupan yang semakin mahal dan serba cepat.

"Biarlah urusan makan anak-anak tidak lagi menjadi kecemasan keluarga," demikian narasi yang dibangun — mengundang simpati luas dari masyarakat.

Antara Kepedulian Negara dan Kemandirian Keluarga

Namun kehadiran MBG juga membuka ruang pertanyaan lebih dalam: sejauh mana negara boleh masuk ke wilayah paling privat warga — dapur keluarga?

Dapur bukan hanya ruang memasak, tapi juga tempat pertama anak belajar tanggung jawab, pilihan, dan kemandirian.

Jika negara masuk terlalu jauh ke ruang ini, maka ada risiko pengambilalihan peran keluarga secara tidak disadari.

Program ini tampak lebih fokus pada hasil akhir, yakni kecukupan gizi, tanpa membenahi fondasi keluarga agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri.

Negara seolah memilih langsung hadir di piring makan, bukan memperkuat kemampuan keluarga dalam mencukupi kebutuhan gizinya sendiri.

Pendekatan ini memang terasa praktis, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan serta pembagian peran antara negara dan warga.

Menimbang Makna Kehadiran Negara dalam Kehidupan Warga

Dalam situasi sosial ekonomi yang semakin kompleks — harga pangan yang fluktuatif, tekanan ekonomi, dan keterbatasan waktu — negara memang perlu hadir sebagai penopang.

Namun idealnya, kehadiran itu memberikan rasa aman, bukan menggantikan peran internal keluarga.

MBG menjadi cermin bagi kita semua: apakah makna kepedulian negara berarti turun langsung ke urusan privat seperti makanan, atau memastikan warga memiliki kemampuan untuk mengurusnya sendiri?

Pertanyaan ini tidak untuk dijawab secara tergesa-gesa, melainkan direnungkan bersama agar niat baik negara tidak melangkah terlalu jauh.

Sebab MBG bukan sekadar soal gizi, tetapi juga refleksi tentang batas peran negara, pentingnya kemandirian warga, dan makna kehadiran pemerintah dalam kehidupan rakyat.

Penulis :
Ahmad Yusuf