
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut dinamika atmosfer menjadi faktor utama meningkatnya potensi hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya sehingga mendorong pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai langkah pengendalian risiko bencana hidrometeorologi.
Penjelasan tersebut disampaikan Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo di Jakarta terkait kondisi cuaca Jabodetabek pada pertengahan Januari.
Hasil analisis meteorologi BMKG menunjukkan sejumlah fenomena atmosfer aktif memengaruhi cuaca di wilayah Jabodetabek.
Fenomena tersebut meliputi Madden Julian Oscillation fase dua, gelombang Kelvin, serta gelombang frekuensi rendah.
Nilai Outgoing Longwave Radiation yang terpantau negatif turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Budi Harsoyo menyampaikan, “Terpantau adanya Madden-Julian Oscillation fase 2, gelombang Kelvin, gelombang frekuensi rendah, serta nilai Outgoing Longwave Radiation negatif yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” ungkapnya.
Kelembapan udara di wilayah Jabodetabek tercatat berkisar antara 40 hingga 100 persen.
Kondisi tersebut berada pada lapisan atmosfer 925 hingga 500 hPa yang dinilai cukup labil.
Atmosfer yang labil memungkinkan terjadinya proses konveksi sedang yang berpotensi memicu hujan lebat.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG bersama BPBD DKI Jakarta dan TNI Angkatan Udara melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca.
Operasi Modifikasi Cuaca dilaksanakan pada periode 16 hingga 22 Januari 2026.
Pusat komando operasi berada di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penyemaian awan diprioritaskan pada sistem awan hujan di wilayah perairan.
Penyemaian dilakukan sebelum awan hujan bergerak memasuki wilayah daratan Jakarta dan sekitarnya.
Tri Handoko Seto menyampaikan, “Tujuannya agar curah hujan dapat diturunkan lebih awal dan tidak terkonsentrasi di wilayah daratan yang padat penduduk,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan operasi tersebut, satu pesawat Casa 212 disiagakan untuk mendukung kegiatan penyemaian.
Pesawat tersebut membawa bahan semai berupa Natrium Klorida dan Kalsium Oksida.
Setiap penerbangan Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan berdasarkan hasil pemantauan radar cuaca secara waktu nyata.
BMKG menegaskan analisis atmosfer akan terus diperbarui setiap hari sebagai dasar pengambilan keputusan operasi.
Langkah ini dilakukan untuk mendukung mitigasi bencana sekaligus menjaga aktivitas masyarakat Jakarta tetap berjalan di tengah potensi cuaca ekstrem.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







