
Pantau - Kementerian Kebudayaan menyatakan kesiapannya untuk melindungi lukisan prasejarah yang ditemukan di dinding gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun.
Lukisan ini merupakan hasil temuan bersama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peneliti dari Griffith University Australia, serta Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK).
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa fokus utama kementeriannya adalah menjaga keberadaan aset budaya tersebut agar tidak rusak akibat usia atau faktor alam.
"Bagi Kementerian Kebudayaan bagaimana merasakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya, punya aset kebudayaan seperti ini dalam konteks perlindungan, jangan sampai situs ini mengalami kerusakan karena faktor usia atau alam," ungkapnya dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis.
Potensi Kerusakan Karena Lokasi Terbuka
Lokasi gua Metanduno yang mudah dijangkau masyarakat luas membuat lukisan prasejarah ini rentan terhadap kerusakan.
"Karena menurut para peneliti, ini mudah sekali dijangkau, sering dipegang-pegang. Sangat membahayakan," ujarnya.
Untuk itu, Kementerian Kebudayaan juga berencana mengembangkan situs gua Metanduno agar memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, tanpa mengorbankan aspek pelestarian.
Saat ini, gua Metanduno berstatus sebagai cagar budaya tingkat provinsi.
Namun, pemerintah tengah mendorong peningkatan statusnya menjadi cagar budaya nasional.
Bukti Peradaban Tertua di Dunia
Fadli Zon menambahkan bahwa keberadaan lukisan di gua Metanduno memperkuat narasi bahwa Indonesia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia.
Ia menyebut, narasi ini sedang disiapkan sebagai bagian dari promosi identitas kebudayaan nasional di kancah internasional.
Peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengungkapkan bahwa hasil riset mereka telah dimuat dalam jurnal ilmiah Nature.
"Untuk umur kita perkirakan para peneliti sebelum 2014 hanya sekitar 4.000 tahun yang lalu, tapi sampai 2026 diperkirakan sekitar 67.800 tahun yang lalu," jelasnya.
Adhi juga menambahkan bahwa nenek moyang manusia saat itu bukan hanya pelaut unggul, tetapi juga penggambar yang cerdas, yang mampu menciptakan karya seni di masa prasejarah.
- Penulis :
- Leon Weldrick







