
Pantau - Renal Kristanto Lumban, calon pendeta Gereja HKBP Parsingkaman, mengajak seluruh jemaat di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, untuk menjaga lingkungan sebagai bentuk refleksi atas bencana longsor yang terjadi di wilayah mereka.
Longsor Disebut Sebagai Peringatan, Jemaat Didorong Tetap Teguh
Dalam khotbahnya, Renal menekankan bahwa peristiwa longsor ini merupakan peringatan dari Tuhan, bukan sekadar bencana biasa.
"Kami tekankan di dalam khotbah tadi bahwa ini bukan sekedar bencana, tapi peringatan dari Tuhan", ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bencana longsor disebabkan oleh tangan-tangan manusia dan harus menjadi pengingat untuk menjaga alam sekitar.
Renal mengajak jemaat untuk menjaga lingkungan, ekosistem, dan hutan karena jika tidak, "nyawa dan rumah-rumah kita yang menjadi taruhan", katanya.
Ia juga mendorong jemaat untuk tetap teguh dan damai dalam menghadapi kondisi saat ini agar bisa kembali hidup normal seperti sebelumnya.
"Puji Tuhan hari ini ibadah ramai diikuti jemaat kami dan mereka cukup antusias mengikuti ibadah", tambahnya.
Gereja Kembali Digunakan, TNI Bersihkan Material Longsor
Pengurus Gereja HKBP Parsingkaman, Pangihutan Hutagalung, menjelaskan bahwa gereja tersebut merupakan gereja tertua kedua di daerah itu dan tercatat memiliki 160 kepala keluarga sebagai jemaat aktif.
Saat ini, gereja sudah kembali bisa digunakan untuk ibadah setelah sempat terdampak longsor.
Sebelumnya, puluhan personel TNI dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 906/Sanalenggam melakukan pembersihan material longsor di area gereja tersebut.
Selain membersihkan area gereja, personel TNI juga bekerja membuka akses jalan menuju gereja agar bisa dilewati kendaraan roda dua dan empat.
- Penulis :
- Gerry Eka








