
Pantau - Warga terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai menempati hunian sementara (huntara) yang diresmikan pemerintah pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Malam Pertama di Huntara, Simbol Harapan Baru Para Penyintas
Huntara berukuran 6 meter x 3,6 meter ini menjadi tempat tinggal baru yang lebih layak bagi para penyintas yang sebelumnya tinggal di tenda-tenda bantuan.
Di malam pertama, suasana mulai hangat. Para penyintas memindahkan barang-barang mereka dari ruang kelas SDN 05 Kayu Pasak ke unit huntara masing-masing.
Anak-anak terlihat ceria bermain di halaman huntara, sementara keluarga mulai menata kehidupan mereka kembali.
Suharmes (45), salah satu penyintas, kehilangan rumah dan usaha warung akibat banjir bandang.
Ia bersyukur bisa menempati huntara dan menganggap bencana sebagai cobaan dengan hikmah di baliknya.
"Sudah banyak bantuan datang. Sekarang tinggal bagaimana kami bisa bangkit kembali," ujarnya, sambil menyampaikan niatnya untuk memulai usaha dari nol.
Pasangan penyintas lainnya, Sawaludin (51) dan Yusmarni (45), juga sedang menata barang-barang di huntara setelah sebelumnya berpindah-pindah menumpang di rumah saudara.
Mereka kehilangan sawah sebagai sumber penghasilan utama, dan berharap pemerintah dapat membantu pemulihan lahan pertanian.
Barang-barang yang dipindahkan ke huntara antara lain kasur, selimut, kipas angin, sajadah, tabung gas, makanan, dan pakaian.
Huntara menjadi simbol awal kebangkitan, memberi ruang aktivitas keluarga, serta menjauhkan mereka dari kondisi berdesakan di pengungsian.
Pemerintah Pusat Dorong Rehabilitasi Cepat dan Pemulihan Produktivitas
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyatakan bahwa pembangunan huntara merupakan bagian dari percepatan rehabilitasi sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Prioritas mencakup pemulihan infrastruktur, lahan pertanian, UMKM, pasar, serta penyediaan huntara dan hunian tetap.
"Fokus utama adalah pemulihan produktivitas para penyintas. Selain itu, perlu ada perkuatan kelembagaan untuk mitigasi dan pencegahan bencana ke depan," kata Pratikno.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut meresmikan langsung huntara di Kayu Pasak, dan menekankan pentingnya penanganan bencana secara lintas sektor.
"Huntara ini memberi ruang tinggal lebih layak bagi korban bencana. Koordinasi lintas sektor akan terus ditingkatkan," ujarnya.
Sebanyak 117 unit huntara telah selesai dibangun dan siap ditempati di Kabupaten Agam, menggantikan ruang kelas SDN 05 Kayu Pasak yang sempat dijadikan tempat pengungsian.
Bupati Agam Benni Warlis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan huntara, mulai dari pemerintah pusat dan provinsi hingga TNI, Polri, relawan, dan organisasi masyarakat.
- Penulis :
- Gerry Eka








